Nawa Wida Bhakti-Kirtanam

NAWA WIDA BHAKTI – SRAWANAM
DARMA WACANA – PURA EKA WIRA ANANTHA
MARCH – 2009.

oleh: Jero Mangku Made Sudiada (JMS)

Dengan Nawa Wida Bhakti – SRAWANAM  Prabu Parikesit mencapai moksa.
Jnanam, Karma, dan Bhakti, dalam mewujudkan ajaran Hindu adalah merupakan satu kesatuan yang susah untuk dipisahkan karena merupakan satuan intergral satu dengan yang lainnya. Svami Satya Narayana mengatakan : Ketiga jalan tersebut bak Gula batu, bentuk, berat, dan penampilan gula tersebut sangatlah berbeda, namun mereka mempunyai kesatuan yang utuh dan sulit untuk dibeda bedakan. Kalau Jnanam itu tidak diwujudkan dalam bentuk Bhakti, maka hanya tinggal didalam hati saja, Karma tanpa dilandasi dengan Jnanam maka karma akan ngawur tanpa arah, Jnanam dan karma tanpa bakti, akan bisa menimbulkan arogansi dan gersang, Bhakti tanpa Jnanam dan karma juga akan nyaplir. Karena itu Bhakti kepada tuhan merupakan ujung dari Jnanam dan karma.
Berbakti kepada tuhan tidak hanya dalam wujud sembahyang baik itu di pura maupun di merajan.

Dalam Bhagawata purana VII.5.23. menyebutkan ada sembilan bentuk Bhakti kepada tuhan yang disebutkan dengan :”NAWA WIDA BHAKTI” salah satu bentuk bhakti itu adalah Srawanam ( mendengarkan nasehat nasehat suci, Ajaran Dharma dengan penuh konsentrasi ) Kesimpulannya berbakti kepada tuhan dengan cara mendengarkan tentang ketuhanan, Ceritra ceritra tentang Tuhan, melalui ajaran Dharma ).

Prabu Parikesit adalah merupakan raja yang terakhir dari Astinapura. Atau cucu Pandawa yang mencapai Moksa beliau melakukan Bhakti kepada Tuhan dengan cara SRawanam.

Dalam ceritra mahabrata Prabu Parikesit diceritrakan berburu ke hutan, akhirnya memasuki pertapaan Rsi Samiti,  Didalam Kerajaan Astinapura, ada suatu etika, bila sang raja datang berkunjung layaknya disambut dengan istimewa, setiap orang menyambutnya, menghormati serta appreciate atas kunjungan sang raja.

Disis lain disebuah pertapaan  pada saat itu, Rsi Samiti sedang mejalankan tribrata, Brata makan ( Upawasa ) Brata Tidur ( Jagra ) serta brata berbicara ( monobrata ) karena dalam kondisi Tribrata inilah beliau akhirnya tidak menyambut kedatangan sang Raja dengan sebagaimana mestinya.

Prabu Parikesit sangat tersinggung atas keadaan ini, sehingga kemarahannya ditumpahkan kepada seekor ular yang sedang lewat disana, ular itupun dipukulnya sampai mati, yang akhirnya bangkai ular itu dikalungkan oleh Prabu parikesit dilehar Sang Rsi Samiti yang sedang melakukan Tribrata. Kemudian sang Rsi ditinggalkan begitu saja dalam tri brata dengan leher dikalungi bangkai ular.

Sang Rsi Samiti memiliki seorang putra yang bernama Srenggi- (masih tergolong kanak kanak karena usianya baru 8 tahun ) Namun Srenggi mempunyai suatu bakat yang luarbiasa dalam ketekunannya melaksanakan Gayatri mantram, dalam usianya yang ke lima Srenggi sudah mampu melaksanakan japa mala Gyatri mantram sampai ribuan kali lebih lebih lagi, diluar Desanya sendiri.

Ketika Srenggi kembali dari taman pesraman mengambil bunga yang tadinya dipersiapkan untuk sembahyang, alangkah kagetnya mereka ketika melihat dan menyaksikan kondisi Ayahandanya sang Rsi dengan posisi meditasi dengan bangkai ular yang melilit dilehernya. Srenggi berusaha untuk mencari tau siapa palaku dari perbuatan amoral seperti itu,  maka dapatlah srenggi jawaban pelakunya adalah seorang Raja ( Prabu Parikesit sebagai pelaku tunggal )

Srenggipun segera mengejar Prabu parikesit dan sekaligus melontarkan kutukan atas perlakuannya terhadap Ayahndanya sang Rsi. ”Dalam kurun waktu 7 hari Prabu Parikesit akan mati dengan cara yang menyedihkan digigit ular”.

Rsi Samiti mendengarkan kesemuanya itu,  dan beliau mengetahui kemampuan putranya sang Srenggi, karena kesidhiannya, mengingat sejak kecil Srenggi sangat rajin dan tulus melakukan Japa Mala Kutukan tinggal kutukan tak boleh ditarik dengan apapun, akhirnya dalam kurun waktu yang ditentukan 7 Hari pasti akan terjadi kejadian yang sangat mengenaskan Prabu Parikesit sudah pasti akan menderita atas kutuknnya itu.

Tinggal satu satunya yang dilakukan Sang Rsi sekarang adalah masuk ke Istana kerajaan dan menyampaikan masalah ini, sehingga dibuatkanlah sebuh podium dan dijaga ketat sehingga tidak ada lagi jalan ular bisa menghapiri Prabu parikesit.

Dalam tujuh hari itulah dipergunakan bertobat oleh Sang Prabu Parikesit, selama 7 hari untuk Srawanam, yaitu mendengarkan dengan cara seksama Ikang Tinutur Pineh Ayu dari sang Rsi Samiti.
Persis hari yang ke VII Jiwa sang Prabu Parikesit meninggalkan Raga ( alias Moksa ) dan akhirnya datanglah sang pelayan menyuguhkan Hidangan makan buat sang Prabu Parikesit, meskipun Makanan itu di Softir secara sempurna oleh Koki Istana, namun Ular tersebut bersembunyi dibalik kuping manggis, ketika sang Prabu mau makan manggis keluarlah ular tersebut dengan serta merta mematuk sang Prabu yang sebenanrnya sudah dalam keadaan Sunia – Berakhirlah Prabu Parikesit yang merupakan akhir dari bagian kejayaan Wangsa Bratha – di Astinapura.
Inggih akan dilanjutkan dengan ”KIRTHANAM”

About these ads

~ oleh made24 pada Mei 16, 2009.

2 Tanggapan to “Nawa Wida Bhakti-Kirtanam”

  1. jero mangku omsuastyastu, saya minta solusi gimana cara mengatasi rasa kurang betah tinggal dirumah bila keluar rumah pingin pulang cepat mohon petunjuknya om shanti shsnti shsnti om

    • om swastyastu,

      Persoalan Bapak Made Suela:
      Kurang Betah tinggal di rumah,

      Solusi untuk persoalan: Tidak Betah di rumah, masalah seperti ini penyebabnya bisa bermacam-macam, misalnya:

      1. kita mengharapkan rumah lebih yang kita miliki, sehingga ketika menyaksikan rumah seperti itu ada rasa yang tidak puas, sehingga pingin keluar rumah. Entah karena kebersihannya, kerapian, tata letaknya, dan seterusnya. Solusinya: TERIMA RUMAH APA ADANYA, LAKUKAN PERBAIKAN SEBISA MUNGKIN UNTUK MEMBUAT DIRI SEMAKIN BETAH (dalam hal kebersihan, kerapian, dll).
      2. bisa juga di rumah itu ada banyak timbunan energi negatip yang timbul karena (masa lalu yang terlalu manis atau terlalu pahit), baik yang kita lakukan atau yang dilakukan oleh penghuni rumah sebelumnya. Solusinya: Perbanyak Sembahyang dan meditasi. Di Bali ada juga tradisi maturan ring Kawitan/Leluhur, dan Sang Hyang Widdhi Wasa. Jaga Tri Kaya Parisuddha= Berfikir yang baik, Berkata yang baik dan Berbuat yang baik) semua itu akan memancarkan energi positip, mendorong dan menetralisir energi negatip yang ada, sehingga rumah menjadi sumber kedamaian.

      Solusi untuk persoalan: bila di luar rumah pingin cepat pulang.
      Biasanya kita tidak betah di luar dan pingin cepat pulang, juga ada beberapa penyebab. Misalnya:
      Di luar kita tidak mendapatkan kenyamanan, rumah adalah tempat yang paling nyaman, jadi ketika kita tidak mendapatkan kenyamanan maka kita inget rumah. Percis seperti ingat masakan Ibu, saat berada di tanah rantau dimana makanan yang tersedia tidak sesuai dengan selera kita.

      Solusinya: Kita harus tau kenapa kita keluar, tujuannya apa, fokus pada tujuan, setelah selesai, pulang. Jangan mengharapkan sesuatu yang lebih, keterikatan pada harapan membuat orang menderita.
      Kemudian setiap mau keluar berdoa, melakukan aktivitas juga berdoa…

      Demikian Pak Made, semoga kedamaian dan ketenangan bisa menjadi teman abadi

      Damai…
      Made M/Abu Dhabi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 35 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: