Kebenaran itu Sederhana tapi sulit dijalani

Marilah kita tengok kembali kisah Pandita Sakti. Dikisahkan hari itu Sang Pandita kedatangan seorang tamu. Dari penampilannya tampak Beliau bukanlah orang sembarangan, cara berkaiannya sangat rapi, perpaduan warna pakaian atas dan bawahannya sangatlah serasi dengan jubah berwarna biru tampak begitu gagah dan menawan. Beliau adalah seorang pengusaha sukses pada jamannya, yang berusia sekitar 60 tahunan.

Pandita Sakti memberikan wejangan pada para murid

Pandita Sakti memberikan wejangan pada para murid

Seperti biasa sang Pandita menyambut tamunya dengan senyum yang ramah tidak lupa mempersilahkan minum Kopi Bali, spesial buatan para murid yang telah berpengalaman, semacam starbuck copy atau capoccino jaman sekarang. Beliau selalu mengajarkan para muridnya untuk memperlakukan setiap orang yang datang secara istimewa, tak peduli apakah mereka kaya, miskin, orang cacat, para pejabat, para buruh atau kuli kasar.

Sang Pandita yang bergelar Pandita Sakti sangat dikagumi tua dan muda, dari kaum the have (kaya) maupun kaum the have not (miskin), dari para bearer (pekerja kasar)  sampai para entrepreneur (pengusaha) kelas kakap datang meminta nasehatnya. Maklum sebelum menjadi Pandita Beliau telah melewati semua tahapan hidup dalam Catur Asrama dengan sukses.

Adapun empat tahapan hidup itu adalah:

  1. Brahmacari: masa belajar dan menuntut ilmu, pada masa ini seorang murid harus menjalani banyak pantangan diantaranya; tidak melakukan sex baik oral maupun non oral, tidak melakukan perbuatan asusila (mencuri, mabuk, madat, madon, main=judi, menyakiti mahluk lain), melatih diri sepanjang waktu menguasai enam musuh dalam diri sendiri (Keinginan, Kemarahan, Loba, Mabuk, Irihati dan Bingung), dikuatkan dengan tapa, brata/puasa dan yoga.
  2. Grahasta: masa bermasyarakat/berumahtangga/berketurunan, pada masa ini Beliau telah melahirkan putra-putri yang telah banyak mengharumkan nama keluarga dan daerahnya dengan sederetan prestasi yang diraih dalam bidangnya masing-masing. Beliau dikenal dengan seorang pengusaha yang sukses, mengumpulkan harta dengan jalan yang benar. Menurut Kitab Smerthi Pengumpulan harta untuk penghidupan dengan jalan yang benar disebut sebagai pensucian yang tertinggi. Tidah pengusaha bisa bertahan dijalan Dharma dalam menjalankan usahanya, banyak sekali cobaan yang telah Beliau lalui dengan baik dan tetap lurus di jalan Dharma. Beliau sangat pandai bergaul sehingga disegani oleh kawan-kawannya. Senantiasa melakukan korban suci yang ikhlas, membantu yang memerlukan baik dengan ilmu, harta, tenaga maupun ide.
  3. Wanaprasta: Masa mengundurkan diri dari kehidupan duniawi, mengasingkan diri tinggal di sebuah gubuk sederhana berpakaian dan makan sederhana, mendalami ajaran-ajaran suci agama dengan tekun, dibawah bimbingan seorang Nabe yang juga sangat mumpuni di masanya.
  4. Bhiksuka/Sanyasin: Beliau didiksa menjadi seorang Pandita, melewati proses pewintenan Dwi Jati, Dwi = Dua, Jati =Lahir, lahir dua kali maksudnya adalah, Pertama lahir dari rahim sang Ibu, kedua Lahir dari rahim sang Nabe, lahir yang kedua bermakna telah tercapainya enlightenment (pencerahan).

Tidak mengherankan jika Beliau mampu mamahami dengan cepat setiap persoalan yang dialami oleh para murid dan para pengunjung yang datang mohon nasehat atau bimbingan baik mengenai hal-hal duniawi maupun hal-hal spiritual dan memberikan solusi yang masuk akal dan mudah dijalani.

Tampak Sang Pengusaha sangat menikmati Kopi Bali yang disajikan, dalam beberapa teguk saja, kopi di dalam cangkirnya telah lenyap. “Aku telah melanglang buana dan mencicipi berbagai macam kopi, hmmm copy ini sungguh beda rasanya, aneh di daerah terpencil begini bisa hadir para professional kopi, pastilah Sang Guru bukan orang sembarangan” gumam Sang Pengusaha. Perlahan dia menggeser tempat duduknya mendekati Pandita sehingga kini mereka saling duduk saling berhadapan.

Sambil tersenyum sang Pengusaha kemudian bertanya pada Pandita:

“Ratu Pandita yang saya muliakan, mohon sudikiranya memberikan bimbingan kepada saya apa yang harus saya lakukan setiap hari agar bisa selaras dengan kebenaran..?

Sambil mengelus janggutnya yang panjang Pandita menjawab:

“Anakku Janganlah berbuat jahat dan perbanyaklah kebajikan”

“Kalo itu sih anak kemaren sore juga tahu Pandita” kata Sang Pengusaha

“Ya benar Ananda benar, anak kemaren sore juga tahu, tapi seorang pengusaha yang berpendidikan tinggi dan berusia 60 tahunanpun sukar menjalaninya”. Kata Sang Pandita.

Saudaraku sekalian, seperti kisah diatas, sesuatu itu mungkin mudah untuk diketahui, tapi sulit untuk dilakukan. Saya yakin setiap orang dari kita tahu logika kebenaran, namun berapa banyak orang yang benar-benar mampu mempraktikannya.

Demikian pula halnya dengan saya, menulis kisah diatas tidaklah begitu sulit namun mengimplementasikannya dalam setiap gerak dan langkah tidaklah mudah. Saya punya satu keyakinan; “Dimana ada kemauan dan tindakan untuk melakukan perubahan disana ada hasil berupa perbaikan. Teringat kata seorang teman, “words just take you to the gate only action will bring you inside” Kata-kata hanyalah mengantarkan kita pada gerbang, hanya tindakan yang membawa kita masuk ke dalam.

Ruwais: 25 Sep 09

~ oleh made24 pada September 25, 2009.

2 Tanggapan to “Kebenaran itu Sederhana tapi sulit dijalani”

  1. Pak Made, Om swastyastu.
    Titiang seneng membaca artikel-artikel bapak sampai dengan satue-satue /tantri yang ada , suksma atas pencerahannya. Maaf tiang minta ijin untuk mengopy paste artikel bapak , boleh nggih ?. Suksma.
    Om santhi santhi santhi .

    I Made Toestha
    Sorowako (Sul-Sel)

    • OM Swastyastu,

      Inggih Pak Made, Silahkan..
      Yening wenten sane munggah ring kayun turmaning bermanfaat rarisang…

      Salam buat semeton sami ring Sorowako (sulawesi selatan

      Om Santhih Santhih Santhih
      Made Mariana
      Abu Dhabi – UAE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: