Enam Tembok Penghalang Kesuksesan Bag 3

Om Swastyastu

Tembok 3: Lobha/Serakah yang tak terkendali

Pagi itu begitu cerah, sinar mentari menyapu sang rau, angin sejuk pegunungan berhempus dengan lembut seakan menyapa siapapun yang datang bertamu, burung-burung berkicau riang beterbangan dari satu dahan ke dahan yang lain, tak mau kalah, kupu-kupupun bercengkrama mesra menari riang di atas bunga-bunga yang mekar berwarna-warni menghiasi taman di depan pesraman sang Pandita. Tampak Sang Pandita bersama murid-muridnya sedang asyik berdiskusi dibawah pohon rindang di pinggir kolam dengan airnya yang jernih dihiasi oleh bunga teratai beraneka warna membuat takjub siapapun yang menyaksikan karya agung Tuhan Maha Esa.

Seorang murid yang bertubuh jangkung berpakaian warna biru tiba-tiba berdiri diantara kerumunan kawan-kawannya. Dengan mencakupkan kedua tangannya di dada sang pemuda mengucapkan salam pangenjali “Om semoga semua mahluk berbahagia dan sejahtera, Guru terimakasih atas penjelasan guru tentang Tembok:1 Keinginan yang terkendali, Tembok:2 Marah yang tak terkendali, sungguh semua penjelasan guru telah membuka mata hamba yang bodoh ini. Ternyata tanpa hamba sadari selama ini hamba sering diperbudak oleh kedua tembok itu. Pabila Guru berkenan sudilah kiranya Guru menjelaskan tembok berikutnya..”

Sang Pandita dengan senyumnya yang khas membuat tenang dan nyaman siapapun yang memandang, menatap lembut yang pemuda; “Anakku tembok yang ketiga adalah Lobha atau disebut pula serakah. Lobha/serakah/tamak artinya selalu ingin mendapat (memiliki) banyak-banyak, Sifat ini bila tidak terkendali akan menyebabkan petaka, bisa menjadi tembok yang kuat dan kokoh yang menghalangi perjalanan Ananda menuju sukses.

Loba adalah produk dari kekuatan aktip (Guna Rajas). Loba yang disertai dengan sifat malas, melahirkan banyak penyakit baru seperti, korupsi, kolusi dan nepotisme, Ingin hidup enak dan senang tetapi malas berusaha. Inilah musuh manusia yang sering menyelinap dalam dirinya yang sulit membendungnya bila diri tidak dibentengi dengan kekuatan kebajikan (Guna Satwam).

Sattvat saýjàyate jñànam
rajaso lobha eva ca,
pramàdamohau tamaso
bhavato’jñànam eva ca.

(Dari Sattvam timbullah kebajikan, dari Rajas timbullah kerakusan/tamak/loba, dari Tamas timbullah kemalasan juga kekacauan dan kebodohan). (Gìtà XIV.17.)

Anakku bila nanti kalian terpilih menjadi pemuka adat, menjadi pejabat atau petinggi di dalam sebuah perusahaan/organisasi, menjadi pemimpin negeri/Negara, berhati-hatilah pada musuh yang satu ini, kewajiban pemimpin memberi contoh yang baik dan menjadi pelayan masyarakat. Janganlah sampai kalian diperbudak oleh Loba/tamak ini, karena dia sangat berbahaya, seorang pemimpin hendaknya mengusahakan kemakmuran rakyat, mewakili aspirasi dari rakyat yang dipinpinnya. Bukan malah menghisap madu ataupun sumber daya yang dimiliki oleh rakyatnya lantaran tidak mampu menundukkan musuh si loba/tamak ini.

Karmanaá sukritasyàhuá
sattvikaý nirmalaý phalam,
rajasastu phalaý duhkham
ajñànaý tamasaá phalam.

(Pahala perbuatan Sattvika adalah kebajikan yang suci nirmala, pahala dari Rajasika adalah duka nestapa, sedang pahala dari Tamasika adalah kebodohan). (Gita XIV.16.)

Loba/tamak pada harta benda membuat orang menjadi kikir, membangun kecendrungan untuk mementingkan diri sendiri (nresangsia). Loba pada pekerjaan, loba hobbies seperti main bulu tangkis, main sepak bola, mancing, aeromodelling, main internet/face book/game, nonton TV, membaca novel, tanpa disadari akan menyikat banyak waktu-waktu emas untuk melakukan aktivitas kebaikan (sembahyang/sholat, namasmaranam/zikir, meditasi/tafaqur, sembahyang tengah malam/tahajud, waktu untuk berpunya/bersadaqah, waktu untuk pesantian/pengajian, waktu untuk berdharmawacana/berkotbah, dll). Kehilangan waktu-waktu emas bersama keluarga tercinta. Jangan sampai karena kesenangan pribadi pendidikan anak, kemesraan berumah tangga jadi terganggu. Keseimbangan/keharmonisan adalah inti dari sepritual..

Loba pada diri pengusaha akan melahirkan konglomerat yang berwajah serakah tidak peduli pada kaum tak bermodal atau kaum lemah. Loba yang selalu menginginkan kesenangan sesuatu yang berlebih untuk kepentingan pribadi tidak peduli pada kelestarian alam dan generasi berikutnya akan merusak alam dan mewariskan penderitaan.

Keserakahan menggunduli hutan misalnya, menyisakan bahaya banjir dan tanah longsor yang menelan korban nyawa, harta, tenaga dan waktu.

Keserakahan untuk mendapatkan keuntungan pribadi tanpa memperhatikan keseimbangan alam, juga bisa merusak ekosistem di alam ini, keinginan dapat ikan yang banyak di sungai/danau dengan menggunakan potassium misalnya membunuh bukan hanya ikan-ikan kecil, tapi juga membuat busuk telor-telor ikan sehingga membuat punah banyak jenis ikan-ikan langka air tawar.

Sifat loba ini adalah bagian dari diri manusia yang merupakan anugrah mesti diarahkan untuk kebaikan, loba dalam melakukan perbuatan baik, loba dalam beryadnya (membantu orang lain) tentunya dengan tidak melalaikan kepentingan keluarga dan diri sendiri, justru akan membantu menuju sukses, terutama dalam menjalin jaringan dengan teman-teman. Dalam kehidupan ini teman adalah harta yang utama, dari mereka kita bisa mendapatkan informasi tentang lowongan pekerjaan, informasi tentang pelayanan kesehatan, tips dan trik menuju sukses dibidangnya masing-masing (sharing informasi, ilmu dan pengalaman).

Oleh karena demikian berbahayanya loba/serakah/tamak yang terkendali, maka usahakanlah jangan sampai ananda diperbudak oleh sifat loba ini”.

“Guru bulu roma saya jadi bergidik membayangkan bahaya yang ditimbulkan oleh loba/serakah yang tidak terkendali ini, agar tidak terjadi petaka pada diri maupun lingkungan (alam, orang lain, mahluk lain) mohon sudi kiranya Guru menunjukkan pada hamba bagaimana cara mengatasi sifat loba ini…?

“Anakku, sifat loba adalah produk dari kekuatan aktip (guna rajas), bisa dikendalikan dengan guna satwam (kekuatan kebajikan). Beberapa bentuk mudah dari kekuatan kebajikan (guna satwam) ini adalah:

  1. Bersyukur, berbahagia dengan apa yang diperolehnya.
  2. Menerima apa yang menjadi haknya dan tidak menginginkan apalagi mengambil hak orang lain,
  3. Menyadari bahwa orang lain juga memiliki kebutuhan yang sama dengan kita (primer, skunder dan tersier) yang membutuhkan sumber daya juga.
  4. Mengurangi makan makanan yang bersifat aktip (rajas) seperti: daging, bawang merah, cabe, merica. Meningkatkan makan makanan yang bersifat bajik (satwam) seperti: sayur-sayuran hijau dan segar, buah-buahan yang segar, kacang-kacangan, madu, beras/gandung, susu.
  5. Rajin berlatih puasa untuk memperkuat pengendalian diri.
  6. Rajin sembahyang/meditasi untuk memperkuat kekuatan kebajikan (satwam)
  7. Membiasakan diri untuk hidup sederhana, tidak terpengaruh oleh budaya kemewahan dan hedonisme.
  8. Menyadari bahwa tidak ada orang yang suka melihat orang lain serakah termasuk diri Ananda sendiri. Jadi mulailah dari diri sendiri untuk mengurangi sifat serakah, kemudian kendalikan selanjutnya lenyapkan.
  9. Berbagilah dengan sesame (beryadnya/bersedekah) baik dengan ilmu, ide, harta ataupun tenaga/pelayanan.
  10. Rajin membaca kitab suci, berdialog/berdiskusi, mendengarkan dharma wacana/qotbah yang memberikan bimbingan dan penerangan serta meningkatkan kesadaran diri.

(bersambung…. Tembok ke:4 Bingung yang tak terkendali)

Ruwais, 19 Oktober 2009, Soma, Kliwon,Kuningan

Made M.

https://singaraja.wordpress.com

~ oleh made24 pada Oktober 19, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: