Persembahan

Om Swastyastu

Inti dari semua aktivitas spiritual Hindu adalah untuk mencapai keharmonisan, kedamaian, keindahan dan keseimbangan. Untuk itu umat Hindu menjalani aktivitas spritualnya sehari-hari selaras dengan alam samesta. “Being Spritual is Being Natural”

 

Untuk menciptakan dan menjaga keseimbangan dan keharmonisan. Upaya ini dilakukan dengan mengimplementasikan ajaran Tri Hita Karana (Tiga keharmonisan hubungan yang membawa pada kebahagiaan) yaitu:

 

  1. Parahyangan. menjaga keharmonisan hubungan dengan Beliau-Beliau yang lebih tinggi dan sangat dihormati dan dimuliakan yaitu: Leluhurnya, Sinar Suci Tuhan (Dewa) dan Tuhan.
  2. Pawongan: Menjaga keharmonisan hubungan dengan sesama manusia, “Tat Twam Asi” Kamu adalah aku. “Vasudaiva kutum bakam” Semua manusia dilahirkan bersaudara. Dengan saling mengembangkan sikap tepo seliro, hormat menghormati dan saling menghargai semua perbedaan yang dimiliki, dan menyadari bahwa manusia adalah mahluk social, satu sama lain saling mendukung dan membutuhkan guna pencapaian kesuksesan di bidang masing-masing
  3. Palemahan: Menciptakan dan menjaga keharmonisan hubungan dengan alam samesta beserta isinya. Dengan tidak melakukan pencemaran, tidak melakukan polusi dengan tindakan, kata-kata dan pikiran. Menjaga kelestarian alam dan species-species tanaman dan hewan langka.

 

Salah satu aktivitas menuju Parahyangan (Beliau yang lebih tinggi) adalah dengan persembahan. Persembahan berasal dari kata “sembah”  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan dari Diknas Indonesia yang artinya: pernyataan hormat dan khidmat (dinyatakan dng cara menangkupkan kedua belah tangan atau menyusun jari sepuluh, lalu mengangkatnya hingga ke bawah dagu atau dng menyentuhkan ibu jari ke hidung) mengangkat — , menghormat dng sembah; 2 kl kata atau perkataan yg ditujukan kpd orang yg dimuliakan

 

Persembahan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan artinya: per·sem·bah·an n 1 hadiah; pemberian (kpd orang yg terhormat)

 

Jadi inti dari persembahan adalah hadiah atau pemberian kepada yang dihormati, dalam hal ini adalah Persembahan Kepada Leluhur, Sinar Suci Tuhan (Dewa), Tuhan

 

Melakukan pemberian sesungguhnya adalah melakukan pengorbanan, apabila pemberian ini atau hadiah ini tanpa disertai dengan motif apapun (baca: ikhlas), maka ini disebut dengan Yadnya.

 

Landasan spiritual untuk melakukan persembahan ini dimuat dalam berbagai kitab yang dijelaskan sbb:

Dewanrsin manusyamsca pitrn grhyasca dewatah
pujayitwa tatah pascad
Grhastha sesabhugbha

(Manawa Dharmasastra III.117)

Maksudnya: Setelah melakukan persembahan kepada Dewa manifestasi Tuhan, kepada para Resi, leluhur yang telah suci (Dewa Pitara), kepada Dewa penjaga rumah dan juga kepada tamu. Setelah itu barulah pemilik rumah makan. Dengan demikian ia lepas dan dosa.

Dalam Bhagawad Gita III.13 dinyatakan, makanlah setelah melakukan yadnya. Dalam sloka Bhagawad Gita itu dinyatakan dengan istilah yadnyasistasinah, yang artinya “makanlah setelah beryadnya”. Yang makan setelah ber-yadnya akan lepas dan dosa. Mereka yang makan tanpa ber-yadnya sebelumnya sesungguhnya makan dosanya sendiri.

 

Jadi apapun yang dimakan hendaknya dipersembahkan terlebih dahulu, bagi mereka yang memilih jalan vegetarian, persembahkanlah makanan vegetarian, demikian pula mereka yang memilih jalan non vegetarian persembahkanlah makanan yang non vegetarian, jangan makan sebelum dipersembahkan terlebih dahulu pada Tuhan yang mengkaruniakan makanan untuk kita semua.

 

Lebih lanjut dalam Maitri Upanisad (VI, 36) dikatakan, “Karena itulah seseorang semestinyalah  Menghaturkan yajna di kuil dengan wirama suci, rempah, gehi, (kurban) daging, kue-kue, nasi yang sudah ditanak dan sebangsanya, dan juga dengan makanan minuman yang dimasukkan ke dalam mulut, karena memahami mulut sebagai api ahavaniya, supaya diberikan kelimpahan tenaga/kekuatan untuk merenungkan dunia kesucian dan untuk keabadian.”

 

Kalo kita melihat dari sumber-sumber yang tersedia di nusantara kita akan dapati pula landasan ini pada Kakawin Râmâyana yang ditulis abad ke-9 di Jawa, yang sampai kini tetap dibaca dalam tradisi nyastra di Bali.

 

Dikisahkan Raja Dasaratha ber- yajnya untuk mendapatkan putra utama. Dia mengundang orang suci, Rsi Asrengga, menghaturkan sesajen kepada Tuhan. Bahan utama upacara yajnya tersebut dibuat dari sarana pilihan. Upakara-nya disyairkan sebagai berikut:

Sajining yajnya ta humadang, sri wreksa samidha puspa ghanda phala, dadhi greta kresnatila madu, mwang kumbha kusagra wreti wetih (Sargah I : 24)

(Sesajen telah disediakan, kayu cendana kering, bunga-bungaan, harum-haruman, air susu, mentega, biji hitam, madu, tempayan, rumput alang-alang, dan gambar suci).

Sang Hyang Kunda pinuja, caru makulilingan samatsya-mangsa dadi, kalawan sekul niwedya, inames salwiring marasa (Sargah I : 28).

{Dewa Agni dipuja dalam tungku pemujaan, dikelilingi caru (sesajen berupa makanan enak) yang terbuat dari ikan, daging, dan nasi. Sesajen itu diolah dengan bumbu yang menimbulkan nasa enak}.

 

Ri sedeng Sang Hyang dumilah, niniwedyaken nikanang niwedya kabeh, osadi len phala mula, mwang kambang gandha dupadi (Sangah 1:29).

(Ketika api suci telah menyala, dipersembahkanlah semua sesajen. Obat-obatan, buah-buahan, umbi-umbian, bunga, harum-haruman, dupa, dan yang lainnya).

 

Caru, seperti dimaksud dalam bait kakawin Râmàyana tadi, adalah persembahan makanan enak, yakni nasi dengan lauk-pauk olahan sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, daging ikan (matsya) dan daging hewan (mangsa) pilihan yang dimasak dengan berbagai bumbu. Mengingat kakawin Ràmàyana ditulis di Jawa abad ke-9, maka caru dimaksud boleh jadi adalah makanan khas Jawa Kuno. Ingat juga tumpengan. Adakah itu berhubungan dengan tradisi ngelawar dan macaru di Bali?

Dikisahkan pula, lungsuran istilah lainnya prasadam (caru atau sesajen yang telah dipersembahkan) itu kemudian disuguhkan guna dinikmati ketiga permaisuri Raja Dasaratha. Akibat mempersembahkan caru yang dipandang utama itu, dia berhasil memperoleh kerahayuan berupa putra utama: Ràmà, Bhàrata, Laksamana, dan Satrughna.

Persembahan dikatakan baik apabila bahan persembahan diperoleh dengan pandangan dan cara benar; lalu diproses dan dipersembahkan dengan pandangan dan cara benar; Disertai dengan niat tulus tanpa ada pamrih (ikhlas) dan kemudian terbukti pula bahwa hasil persembahan itu adalah kerahayuan.

 

Diperoleh dengan pandangan dan cara yang benar maksudnya: Sesuatu yang dipersembahkan tidak diperoleh melalui mencuri, merampok, korupsi, nepotisme, kolusi, menipu, dan lain-lain, melainkan melalui Kerja (usahan sendiri).

 

Diproses dan dipersembahkan dengan pandangan dan cara yang benar: Mengikuti aturan tradisi atau jalan (agama) yang ditempuh. Dengan niat yang tulus ikhlas tanpa ada tujuan untuk mencari keuntungan pribadi seperti: nama baik, kemenangan, kemasyuran, dll

Catatan tradisi Bali yang berisi ajaran tentang sistem bersaji dan ketentuan sarana sesajinya dapat ditemukan terutama dalam jenis lontar keagamaan yang tergolong lontar yajnya, disebut Kalpasastra, seperti Jadma Prawreti, Dewa Tattwa, Bhamakertih, Yama Tattwa, Yama Purwana Tattwa, Pelutuk Bebanten, dan lainnya. Dalam lontar dimaksud disebut-sebut, sarana upacara dapat dibuat dari:

(1) mantiga (telur atau yang bertelor);

(2) mantaya (yang tumbuh atau tumbuh-tumbuhan); dan

(3) maharya (yang beranak-pinak atau binatang piaraan dan hasil buruan).

 

Dalam lontar Wasistha Tattwa (sloka 38-41) dijelaskan, sang raja atau pemimpin sebelum bersantap diwajibkan sembahyang terlebih dahulu dengan:

 

macarwa ring dewa mwang ring sarwa bhuta, nyata hamanggih suka sira, mwang wirya magong

(mempersembahkan makanan enak kepada dewa dan kepada para bhuta. Dengan cara bakti demikian sang Raja dinyatakan akan mendapatkan kemakmuran dan kebahagian hidup).

Tradisi yang baik ini adalah untuk menjaga keharmonisan baik secara vertikal (Parahyangan dan Palemahan). Oleh karenanya kita sebelum menyantap makanan mesti melakukan persembahan, yang sering disebut dengan ngejot atau Banten saiban.

 

Adapun daging (makanan) yang baik dipersembahkan dan kemudian dimakan sang pemimpin dijelaskan:

“Nihan ikang sinangguh mangsa rahayu tadahen de sang prabhu, lwirnya, iwak tasik, bhawi, buron, tawon, wedhus, itik, bantiga “

(Ini adalah daging yang baik dimakan sang pemimpin, yaitu ikan laut, daging babi, daging binatang buruan, tawon, daging kambing, daging itik, dan telor).

 

Sementara daging yang dipandang nista – karena itu tidak baik dimakan sang pemimpin – adalah daging. tikus, kadal, ular, anjing, dan daging katak. Pimpinan itu teladan masyarakat. Jika makan daging itu baik atau buruk bagi pemimpin, tentu baik atau buruk pula bagi masyarakat.

 

Mempersembahkan sesajen dengan lauk-pauk olahan daging terdapat hampir di seluruh tradisi religius masyarakat di Nusantara.

 

Dan, upacara yajnya dengan mempersembahkan olahan daging jelas tersurat dalam kitab suci Weda. Rg. Weda I.161, mantra 1-22, misalnya, memuat amanat tentang kurban kuda aswamedha yajnya. Mantra 9-13 diterjemahkan sebagai berikut:

 

Daging kuda yang dimakan lezat, atau yang melekat pada tonggak atau kapak, atau daging yang menempel pada tangan dan kuku pemotong, di antara dewa-dewa, juga semua sudah siap.

 

“Kotoran yang keluar dari ususnya, dan bau daging mentah masih tercium, semua itu supaya dibersihkan oleh pelaksana kurban, dan menyiapkan makanan matang untuk persembahan”.
 

 

 “Apa yang menetes dari daging yang sedang diguling di atas panggangan, jangan dibiarkan ada tercecer ke tanah atau di rumput, haturkan semua kepada dewa.”
 

 

“Mereka yang melihat daging kuda yang telah dimasak berseru: Baunya sedap, angkat. Dan, daging yang empuk ini siap dibagi. Mudah-mudahan semua ini memperlancar kerja kami.”
 

 

“Garpu untuk masak daging dikaldron, mangkok-mangkok tempat sop, pot-pot pemanas, tutup piring, centong, pinggan berukir, semua disiapkan untuk kurban kuda.”
 

 

Secara didaktis moralis, mempersembahkan binatang kurban adalah ungkapan simbolik yang mengandung makna yajnya (kurban suci), yakni mengurbankan sifat-sifat binatang yang secara potensial ada bila dibiarkan, ia cenderung berkembang biak, beranak pinak dalam diri setiap orang.

 

Hari Raya Galungan pada penampahan Galungan, banyak Babi yang dijadikan korban untuk persembahan. Babi memiliki sifat tamas dan rajas yang sangat kuat. Maknanya adalah sebelum persembahyangan dilakukan pada hari raya Galungan maka sifat-sifat tamas dan rajas itu harus dibunuh dan ditelan mulai dari Hari Penampahan.

 

Dalam konteks ini, yajnya juga berarti menumbuh-kembangkan karakter luhur. Caranya: menghindari perbuatan buruk (dalam pikiran, perkataan, dan tingkah laku), bergaul dengan orang-orang baik, tekun mendengarkan dan merenungkan makna wacana suci, serta selalu berusaha mengamalkan nilai-nilai luhur demi kebahagiaan bersama, baik dengan sesama maupun dengan lingkungan alam.

 

Dikatakan pula, itu hanya mungkin bila dalam diri kita masing-masing bertumbuh rasa cinta kasih. Kasih adalah citra Tuhan. Demikianlah cara yang dianjurkan agama. Maka, dengan senjata kasih itu pula orang dapat mengendalikan egonya.

 

Kasih dan Ego menempati satu bilik yang sama, Bila ego muncul maka kasih akan lenyap demikian sebaliknya.

 

Apasih Ego itu sesungguhnya…?

 

Secara sederhana Ego = Separateness bisa dimaknai sebagai merasa beda dengan orang lain. Bisa merasa lebih bagus ini menuju pada sombong dan angkuh, marah, lobha, yang memupuk sifat merendahkan orang lain. Memandang remeh orang lain, Mengambil hak orang lain

 

Ego dimana dia merasa lebih rendah dari orang lain akan menghasilkan sifat rendah diri, minder, grogi, gugup sehingga tidak bisa focus dan tidak bisa optimal dalam mencapai sesuatu.

 

 Sri Kreshna lewat percakapan suci dengan Arjuna dalam Bhagawadgita XIV.21 mengajar, ada tiga wujud utama ego: (1) kàma (nafsu atau ambisi duniawi yang berlebihan); (2) krodha (kemarahan); dan (3) lobha (kerakusan).

 

Pada level tertentu  dan terkendali Ego itu bermanfaat untuk memacu semangat untuk maju, untuk meraih prestasi. Namun perlu diketahui ego ini jangan sampai tidak terkendali, karena dia sungguh musuh yang sangat sakti mandra guna, bisa mewujudkan diri dalam berbagai bentuk dan rupa yang siap memberangus kita manusia.

 

Ego dapat dikendalikan dengan memupuk rasa toleransi dan tepo seliro, menghargai bahwa setiap orang itu adalah sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangannya. Menyadari bahwa kita adalah menempati rumah yang sama yaitu alam samesta. Dan peran serta kita dalam menjaga alam itu sama-sama pentingnya. Kita membutuhkan satu sama lain untuk mencapai sukses bersinergi meraih cita dan cinta.

Dengan melakukan pelayanan (Seva) tanpa memandang posisi dan jabatan dalam masyarakat pun bisa melatih untuk mengurangi pengaruh negative dari Ego.

Mengambil tanggung jawab atas apapun yang dipandang patut untuk dilakukan seperti: melihat halaman pura kotor, segera bersihkan, Melihat sampah berserakan di kantor atau di rumah segera bersihkan jangan tunggu pembantu atau cleaning service datang membersihkan. Mahatma Gandhi selalu mencontohkan dalam prilakunya seperti ketika dia melakukan perjalanan dari kota-ke kota lainnya di India, tiap kali dia melihat WC kotor dia selalu membersihkannya terlebih dahulu, katanya; WC kotor ini kan menjadi sarang penyakit bagi saudara-saudara kita, bagi anak dan generasi kita, juga bagi alam ini.

Output nyata dari semua aktivitas spiritual itu akan tampak pada perkataan yang halus menyejukkan, tindakan dan sikap yang tepat tidak menyakiti mahluk lain, bermanfaat bagi diri dan mahluk lain serta alam samesta, pikiran yang bersih dan jernih.

 

Om Santih Santih Santih

Made Mariana, Abu Dhabi, 22 December 2009

 

~ oleh made24 pada Desember 22, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: