Tiga Penyebab Bahagia Bag #1

Salam Sejahtera

Dikisahkan kembali perjalanan sang Pandita sakti dalam membimbing para muridnya, kini Beliau sedang diundang hadir dalam perayaan tahun baru oleh seorang penguasa negeri yang telah tersohor kemasyurannya.

Penguasa satu ini emang beda, dia begitu peduli dengan peningkatan kwalitas sumber daya manusianya. Dia sengaja mengundang Sang Pandita Sakti untuk memberikan kesempatan pada warganya untuk mendapatkan pengetahuan tambahan, sambil mengadakan perenungan di akhir tahun 2009 serta menyongsong tahun baru 2010.

Malam itu di bale agung di depan rumah sang Penguasa, tampak warga telah berkumpul berdesak-desakan. Mereka tampak begitu bersemangat untuk merayakan tahun baru kali ini, karena perayaan tahun baru ini menghadirkan seorang tokoh yang sangat ternama. Tokoh yang selama ini mereka dambakan. Sehingga begitu mendengar pemimpinnya mengundang Pandita Sakti yang sangat bijak itu, mereka  tidak bisa menahan diri untuk berdiam di rumah.

Sang Pandita yang konon telah menguasai ilmu sekuler dan spiritual, telah menjalani atau mengalami apa yang diajarkannya, teori dan praktik telah menyatu. Para warga negeri itu terkenal sangat gemar belajar dan bekerja, mereka selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk menambah ilmu dan pengetahuan,

Tampak Sang Pandita duduk tenang disamping Penguasa, Beliau menggunakan jubah berwarna putih, genitri dari biji rudraksa melingkar di lehernya. Sambil tersenyum Sang Penguasa kemudian berdiri melambaikan tangannya memberikan isyarat kepada warganya untuk hening sejenak. Mereka kemudian berdoa mengucapkan puji syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa, masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama di depan balairung bersama Pandita Sakti.

Setelah mempersilahkan menikmati makanan ringan ala kadarnya, dengan sopan kemudian sang Penguasa mempersilahkan warganya untuk bertanya pada Sang Guru. Para warga tampak berebut mengacungkan tangan, namun kali ini yang terpilih mendapat kesempatan pertama untuk bertanya adalah seorang pemuda berperawakan sedang, dengan wajah lonjong, mata bulat dan alis tebal, berpakaian serba biru, dia begitu antusias untuk bertanya sehingga bisa mengancungkan tangan paling cepat….

Guru tampaknya ada banyak sekali jalan spiritual yang ada saat ini, mereka semua punya ritual dan rutinitas yang berbeda satu sama lain, mereka punya tokoh dan tempat ibadah masing-masing, kenapa ada begitu banyak ajaran….?

“Pertanyaan Ananda bagus sekali. karena adanya bermacam-macam karma vasana ( buah perbuatan dari manusia pada kehidupan-kehidupan sebelumnya). Setiap perbuatan akan membawa hasil,

Apabila yang dilakukan adalah karma jahat maka mereka terlempar ke neraka, mengalami berbagai macam siksaan, setelah masa waktu menikmati karma jahatnya di neraka habis, dia lahir menjadi binatang rendahan.

Apabila yang dilakukan karma yang baik (berfikir baik, berkata baik dan berbuat baik) maka akan mencapai sorga, menikmati bermacam-macam kenikmatan. Setelah masa karma baiknya habis dinikmati di Sorga akan lahir lagi menjadi manusia-manusia agung, putra raja atau orang yang hidupnya makmur dan berkecukupan.

Manusia ini kemudian ingin mencapai kebahagiaan abadi bebas dari kelahiran kembali, mengalami suka tanpa wali duka (kebahagiaan abadi), manungggaling kaulo lan gusti, bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa, maka mereka menemui para Guru Suci/Pandita untuk menjelaskan ilmu visesa itu, karena sulitnya mencapai kebahagiaan abadi itu, Karena pengabdiannya Pada Tuhan Yang Maha Esa, maka diturunkanlah berbagai Kitab Suci. Karena adanya banyak kelahiran manusia yang berbeda yang disebabkan oleh karma vasana yang berbeda itu maka diturunkanlah pula Kitab Suci Berbeda-beda.

Anakku, taman bunga yang Indah bisa terwujud dari perpaduan beraneka tanaman, ada rerumputan hijau bak permadani, ada bunga mawar, melati, teratai yang berwarna warni, ada pepohonan dan kolam dengan airnya yang jernih mengalir, perbedaan-perbedaan ini membentuk keindahan yang sedap dipandang mata.

Demikian pula makanan, enak karena ada variasinya, ada lauknya, ada sayurannya, ada masakan dengan berbagai model dan diracik dengan bemacam jenis bumbu-bumbu, perpaduan rasa manis, rasa, pahit, rasa asam, pedas dan asin membuatnya menjadi santapan yang nikmat untuk dimakan.

Guru adalah penerang kami, mohon sudi kiranya menjelaskan apa saja penyebab kebahagiaan itu..?

Keharmonisan/Keseimbangan yang menjadi penyebab kebahagiaan itu, Anakku secara umum manusia berinteraksi dengan: Yang lebih tinggi, Yang setara atau yang sama, dan Yang lebih rendah. Untuk mencapai kebahagiaan maka harmonisasi harus terjadi pula pada ketiga interaksi tersebut:

  1. Harmonis dengan Yang lebih tinggi
  2. Harmonis dengan Yang Setara
  3. Harmonis dengan Yang Lebih Rendah

Leluhur kita mengajarkan, ketiga keharmonisan inilah yang akan menghantar kita pada kebahagiaan,  oleh karenanya disebut dengan Tri Hita Karana,

Tri = Tiga,

Hita = Kebahagiaan

Karana = Penyebab

Guru, Tri Hita Karana terdengar seperti sebuah konsep saja,bagaimana bisa Tri Hita Karana ini bermanfaat dan memberikan kita kebahagiaan, mohon guru menjelaskan lebih detail…

Anakku setiap orang terikat dengan hukum karma atau Kerja, tidak ada manusia yang mampu hanya berdiam diri saja, paling tidak dia akan makan, minum, bernafas, berbicara, berjalan, berfikir yang semuanya adalah bentuk-bentuk dari karma.

Kalo dirangkum secara umum semua karma/aktivitas manusia dilakukan pada tiga kelompok tadi,

  1. Harmonis dengan Yang lebih Tinggi

Yang dianggap lebih tinggi itu adalah Tuhan dan Manifestasi Tuhan (Malaikat/ Para Dewa)

Bagaimana cara menjaga harmonisasi dengan mereka, setiap orang bebas dan berhak untuk memilih jalannya masing-masing, asal ditekuni dan dijalani dengan sungguh-sungguh. Di sinilah Tuhan menciptakan banyak jalan dan memberikan banyak pilihan  kepada manusia untuk memilih jalan-jalan yang ada yang cocok dengan dirinya. Ada jalan ilmu pengetahuan dengan sarana logika, jalan bakti dengan sarana rasa, jalan karma dengan sarana Kerja tanpa pamrih ataupun jalan yoga dengan sarana konsentrasi dan pengendalian diri. Demikian pula ada Agama Islam, Hindu, Buddha, Kristen, Konghucu, Taoisme, Zoroaster, Yahudi, Sikh, Sinto, dll.

Upaya menjaga keharmonisan itu dilakukan dengan melakukan; Persembahyangan/Sholat, Puasa, Mengulang-ulang nama Tuhan Zikir/Namasmaranam, Tafaqur/Meditasi, Sadakah/Infaq atau Yadnya = Korban suci yang tulus ikhlas, korban ini bisa apa saja yang dimiliki seperti; makanan, buah-buahan, bunga, dedaunan, harta (persembahan), upavasa/puasa, pranayama/meditasi, tenaga, ide, apa saja yang dianggap baik.

Tuhan sebagai yang tertinggi diperlakukan special, secara fisik diwujudkan dengan membangun tempat ibadah yang lebih bagus dari rumah tempat tinggal manusia, tempatnya juga lebih tinggi maksudnya adalah sebagai pengingat bahwa ada yang lebih tinggi dari kita yang mesti kita hormati setiap saat, setiap nafas, setiap detiknya.

Dengan selalu mengingat Tuhan pada setiap detik, setiap nafas kita, maka kita percaya bahwa Tuhan akan selalu bersama kita, Tuhan selalu membimbing kita, melindungi kita dari marabahaya, Tuhan selalu menolong kita dari segala macam situasi sulit, Kita benar-benar berpasrah diri pada-Nya. Sehingga kita jadi tenang dan damai, kemanapun kita pergi bahkan ke tempat yang paling berbahaya sekalipun kita menjadi tenang dan damai, bila sudah tenang dan damai maka kebahagiaan akan mudah dicapai…. Bersambung.. Tiga Penyebab Bahagia Bag#2  Harmonis dengan yang Setara…….

Made Mariana, Ruwais, Abu Dhabi 27 Dec 2009

~ oleh made24 pada Desember 27, 2009.

2 Tanggapan to “Tiga Penyebab Bahagia Bag #1”

  1. Sebenarnya saya bertanya-tanya, kadang konsep harmonis ini agak sedikit mengikat.

    Tat tvam asi…, begitu katanya, “aku sejatinya itu jua”…, tapi kemudian ada tingkatan – ada pembedaan “aku bukan itu” atau “aku berbeda dengan itu”, karena berbeda maka timbul kemungkinan konflik, sehingga “aku harus harmonis dengan itu”. Jadi konsep Tri Hita Karana lahir dari ketidakmampuan menyerapi makna Tat tvam asi.

    Ah…, hanya sekadar melepas penat Bli Made, maaf lama tidak berkunjung.

    Tabik🙂

    • Om Swastyastu,

      Ya sebuah konsep kalo kita berharap banyak otomatis akan muncul ikatan.

      Konsep Tri Hita Karana lahir dari ketidakmampuan menyerapi makna Tat Twam Asi… bisa jadi benar bila acuannya manusia ke manusia. (Pawongannya).

      Namun di dlm Tri Hita Karana itu ada:
      Parahyangan; harmonisasi dengan Yang Maha Kuasa dan Sinar suciNya
      Palemahan; harmonisasi dengan Alam Samesta dan mahluk-mahluk bawahan seperti; tumbuhan, hewan, butha kala, jin, gerderwo, dll.

      Bila mampu menciptakan keharmonisan dengan Tuhan dan manifestasiNya, dengan sesama manusia, dan dengan alam serta mahluk-mahluk bawahan, nah terciptalah yang disebut dengan kebahagiaan = Hita

      Gitu kira-kira
      heheehehehehhe

      kurang lebihnya mohon maaf

      damai…………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: