Tiga Penyebab Bahagia Bag # 2 Harmonis dengan sesama manusia

Harmonis dengan Sesama Manusia : Pawongan

 Anakku…Tidak bisa dipungkiri, manusia merupakan mahluk kunci dari perkembangan di planet bumi ini. Manusia bertanggung jawab terhadap segala macam retorika hidup. Pembangunan diberbagai bidang telah menunjukkan betapa manusia selalu ingin meningkatkan dirinya. Inilah cirri dari manusia hidup, selalu melakukan peningkatan, seperti yang dikatakan oleh pendiri “The Art of Peace” atau lebih dikenal dengan Aikido, Morehei Ueshiba:

Life is growth. If we stop growing, technically and spiritually, we are as good as dead.”

 Hidup adalah pertumbuhan, Jika berhenti bertumbuh, secara teknis dan spiritual, kita sama dengan mati

 Setiap tindakan akan membawa suatu konsekuensi, demikian pula tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari membawa dampak positif yaitu adanya kemudahan-kemudahan dalam menjalani hidup baik dibidang transportasi, komunikasi, informasi, peralatan, ilmu pengetahuan dan teknologi, yang bisa kita nikmati sehari-hari.

Persaingan, perebutan kekuasaan, penyalahgunaan sumber daya, penjajahan, korupsi, nepotisme dan kolusi, pengangguran, kemiskinan, adalah wajah-wajah yang lain yang diproduksi oleh manusia itu sendiri. Semua itu mengakibatkan ketidaknyamanan dalam hidup, menimbulkan stress pada masing-masing individu sehingga terjadi disharmoni di dalam diri dan lingkungan.

Dalam suatu perusahaan misalnya; persaingan dari satu individu dengan individu yang lainnya tidak bisa dielakkan dan sering kali menimbulkan konflik. Bagi pribadi-pribadi yang menyukai tantangan persaingan ini akan meningkatkan energi untuk maju, untuk belajar dan bekerja lebih giat dan lebih keras. Sedangkan bagi mereka yang cendrung tidak menyukai tantangan persaingan ini akan menjemukan. Bila persaingan ini dilandasi oleh keinginan untuk menang sendiri atau egois, maka akan terjadi ketidakseimbangan yang memicu suasana Kerja yang tidak harmonis. Menimbulkan stress pada karyawan dan management. Kemudian muncullah istilah persaingan yang sehat. Bersaing secara fair dan kesatria, menghargai kelebihan kawan dan menerima kekurangan yang dimiliki, selanjutnya dengan semangat pertumbungan berusaha untuk meningkatkan diri belajar dari mereka yang sukses, mengkuti seminar/pelatihan, tanpa membuang waktu-waktu luang secara percuma. Untuk mengatasi hal ini munculkan ide stress management, emotional intelligence training, conflict management, team building, dll

Di dalam keluarga, perebutan warisan, perceraian, perselingkuhan, adalah juga produk dari tindakan manusia yang mengganggu keharmonisan keluarga.

Buddha mengatakan:

“All that we are is the result of what we have thought. If a man speaks or acts with an evil thought, pain follows him. If a man speaks or acts with a pure thought, happiness follows him, like a shadow that never leaves him.”

Semua dari kita adalah hasil dari apa yang kita pikirkan. Jika seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran jahat, kepedihan akan mengiktunya. Jika seseorang berbicara dan bertindak dengan pikiran yang bersih kebahagiaan yang mengkutinya. Seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkanmu.

Manusia berusaha mencari jalan keluar bagaimana mencapai keharmonisan ini, kuncinya adalah penghargaan dan toleransi, yang sesuai dengan desa = tempat, kala = waktu/situasi, patra = orang/objek/sastra.

Menurut ajaran Tri Hita Karana, upaya manusia untuk membangun hubungan harmonis dengan sesama manusia ini diwujudkan pada: Leluhur/Orang Tua, Para Guru, Penguasa, kerabat, handai taulan, rekanan Kerja, teman sekolah, masyarakat sekitarnya.

Kepada orang tua dan para guru yang senantiasa membimbing dan melindungi kita sudah sepatutnya kita melakukan pelayanan yang tulus, melakukan pengorbanan yang ikhlas. Ananda sekalian… coba Tanya diri sendiri, apakah yang telah saya lakukan untuk membahagiakan orang tua saya…? Apa yang telah saya berikan pada guru-guru saya sebagai rasa terimakasih atas waktu dan energi serta pikirannya…?

Kepada para penguasa atau pemerintah, kita menghormati dengan mematuhi aturan-aturan di Negara atau daerah dimana kita tinggal.

Kepada saudara, handai taulan dan masyarakat, dengan memandang semua manusia adalah sama, yaitu sama-sama punya kelebihan dan sama-sama punya kekurangan. Tat Twam Asi kamu adalah aku, aku adalah kamu, dengan melayanimu secara tulus dan iklas, sama saja saya sedang melayani diri saya. Mengembangkan kehidupan sosialisasi yang baik, istilah Balinya mesima karma, menyame braye, mesuka duka.

Setiap orang pernah membikin kesalahan termasuk kita sendiri, kesalahan sebagai tanda bahwa dia telah mencoba untuk melakukan sesuatu. Oleh karena itu kita tidak boleh sombong saat melihat orang lain salah, sebaliknya merasa sedih dan minder saat kita membuat suatu kesalahan. Seorang teman pernah berkata : kesalahan = FAIL, First Action in Lerning, Tindakan pertama dalam belajar. Mengenai kesalah Eistain pernah berpesan:

A person who never made a mistake never tried anything new.

(Seseorang yang tidak pernah membuat kesalahan, tidak pernah mencoba sesuaatu yang baru).

Dengan demikian tidak ada alasan untuk memandang rendah orang lain, atau merasa rendah diri berhadapan dengan orang lain. Dalam tes wawancara untuk diterima bekerja dalam suatu perusahaan misalnya: kita harus kembangkan pengertian dalam diri bahwa kita semua sama, sama-sama membutuhkan (pencari Kerja, membutuhkan tenaga Kerja yang berkompetensi), kita juga membutuhkan pekerjaan. Diantara pelamar kita sama-sama punya peluang untuk sukses dan punya peluang untuk gagal, jadi tidak perlu merasa lebih rendah atau lebih tinggi dari orang lain, karena keduanya ini berbahaya untuk pencapaian kesuksesan, maksudnya untuk mengoptimalisasikan potensi dalam dirimu. Kalo merasa lebih cendrung mengantarkan pada kecerobohan dan sembrono, memandang remeh setiap pertanyaan, over confidence, akan menyuburkan kesombongan, setiap pencari Kerja pasti tidak mau merekrut orang yang sombong. Demikian pula bila kita merasa lebih rendah dari orang lain, under confidence, akan membuat kita grogi atau gugup sehingga semua pengetahuan jadi lenyap dari ingatan, akibatnya tidak bisa memberikan jawaban yang tepat pada setiap pertanyaan yang diberikan.

Menyadari bahwa kita adalah mahluk social “homo homini socious” yang saling membutuhkan satu sama lain, kita bisa menjadi sukses tanpa harus saling menjatuhkan, melainkan berjalan bersama membangun sebuah hubungan mutualisme, bersinergi, meraih cita dan cinta.

Kalo diibaratkan dalam ilmu matematika, bila A = kita, B = Orang lain maka. Bila A>B ego merasa lebih, maka kita telah memberikan angin segar pada kesombongan, over confidence. Bila A<B ego merasa kurang, maka kita tanpa sadar telah menumbuhkan rasa rendah diri, under confidence. Bila A=B disitulah kasih akan muncul, kita telah membangun percaya diri / confidence

Setiap tindakan, ucapan dan pikiran selalu dilandasi oleh kasih persaudaraan, “Vasudaiva Kutum Bakam” semua manusia bersaudara. Kita bisa saling menghargai, tepo seliro. Dengan rajin membantu setiap orang yang membutuhkan, tidak serakah dan mengambil hak orang lain, selalu mengedepankan kepentingan orang banyak.

Dalam hidup bermasyarakat, bagaimanapun pinternya kita menempatkan diri pasti ada yang mendukung (suka) ada yang netral (cuek) dan ada yang tidak mendukung (tidak suka). Oleh karena itu, don’t be a football player of other opinion, jangan menjadi bahan permainan orang, percaya dirilah bahwa apa yang dilakukan itu telah difikirkan matang-matang dengan mengedepankan logika dan perasaan. Saat pikiran kita mengatakan ia dan hati nurani kita mengatakan iya juga, lakukanlah. Dengan kata lain, bila hati nuranimu menghargai tindakanmu, nah tindakan itu benar adanya. Saat itu hatimu pasti senang, bila hati senang maka bahagia akan mudah di dapat. Dalai Lama mengatakan:

“Happiness is not something ready made. It comes from your own actions.” (Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang sudah jadi. Dia datang dari tindakanmu)

………. bersambung pada bag # 3 Harmonis dengan Alam sekitarnya

Om Santih Santih Santih Om

Made Mariana

Abu Dhabi, 30 Dec 2009

Http://singaraja.wordpress.com

~ oleh made24 pada Desember 30, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: