MENGAPA ADA BANYAK AJARAN DAN BANYAK KITAB SUCI

Om Swastyastu,

Saudaraku semua. Kita menjumpai begitu banyak kitab suci dan ajaran-ajaran tentang Ketuhanan, tentang Spritual. Sebenarnya kenapa sih ada begitu banyak kitab dan ajaran di dunia ini…? Tentu saja sebagian dari semeton sami yang telah tercerahkan telah memahaminya. Nah bagi mereka yang belum memahami perbedaan itu, marilah kita dengarkan pengajaran Hyang Siwa (Mahesvara) kepada Bhagavan Vrhaspati(guru dari para Dewa) yang dikisahkan dalam Kitab Vrhaspati Tattwa.

Om Avignam Astu.  ( Ya Tuhan Semoga tiada Halangan)

MENGAPA ADA BANYAK AJARAN DAN BANYAK KITAB SUCI

Isvara (Maheswara) tinggal di puncak gunung Kailasa. Di sana beliau sedang mengajarkan ilmu yang suci kepada para dewa. Tiada lama kemudian mereka diberi sastra untuk pemujaan terhadap beliau dalam bentuk bhatara parama karana, Sangkan Paraning Dumadi.

Pada saat itu di Sorga ada seorang viku bernama bhagavan Vrhaspati. Ia datang dan memuja Hyang Isvara ……. Setelah selesai ia lalu menyembah. Setelah itu ia duduk. Ia menanyakan inti sari dari seluruh Ilmu Suci.

Bhagavan Vrhaspati bertanya:

“O Yang Maha Kuasa, Dewa yang tertinggi tanpa mula, ajarkanlah kepada hamba seluruh inti sari ilmu, dengan demikian akan memberikan kebahagiaan kepada semua yang bergerak dan yang tak bergerak.

Dengan perkenaanmu, O yang mulia berilah belas kasihmu kepada putramu ini, ajarkanlah seluruh ilmu pengetahuan yang suci itu. Mengapa kiranya Yang Mulia memberikan hal yang berbeda-beda, yaitu ilmu yang telah diajarkan pada para Dewa? Ada Saiva, Pasupata dan Alepaka. Yang Mulia telah mengajarkan ilmu yang berbeda-beda pula pada mereka masing-masing. Disamping itu pula terdapat banyak kitab-kitab suci. Mengapa sampai demikian…?Apakah kiranya alasan Yang Mulia mengajarkan demikian banyak ilmu, demikian banyak cara serta ajaran yang begitu banyak?”

Hyang Isvara menjawab sebagai berikut:

“Vreshaspati, tepat benar yang anda katakana. Sari pati dari karma phala disusul oleh kelahiran (bhava) di dunia dan akhirat.

Vrhaspati, anakku, pertanyaan anda bagus sekali. Mengapa aku mengajarkan ajaran yang berbeda-beda kepada para dewa, tidak lain karena banyakknya yoni yang menjadi sumber kelahiran kembali.

Mengapa terjadi hal yang berbeda-beda itu? Hal itu disebabkan oleh adanya bermacam-macam vasana. Vasana artinya perbuatan yang dilakukan oleh manusia di dunia ini. Ia menerima hasil perbuatannya itu pada kelahiran yang baru, apakah hasil itu baik atau buruk. Perbuatan apapun yang dilakukan olehnya, pada akhirnya pasti akan menghasilkan buah. Seperti halnya periuk yang berisi hingu, walaupun hingu itu habis dan periuk itu telah digosok dan dicuci, baunya akan tetap tercium, karena bau itu akan tetap melekat pada periuk. Inilah yang dinamakan Vasana.

Demikian pula halnya dengan Vasana Perbuatan (Karma Vasana). Vasana itu ada dalam atman, ia melekat padanya. Ia menodai atau mewarnai atman itu. Atman yang ternoda; hal ini disebut raga. Jadi vasana menghasilkan raga. Oleh karena itu setiap perbuatan orang akan membuahkan karmavasana. Vasana yang telah mewarnai atman akan menghasilkan karma wasana dan karman. Keduanya itu kemudian membawa kelahiran yang berbeda-beda. Misalnya yang mempunyai sifat dewa, melahirkan dewa (dewa yoni), vidhyadara (vidhyara yoni), raksasa (raksasa yoni), daitya (daitya yoni), naga (naga yoni). Sangat banyak yoni yang terjadi, yang merupakan sumber kelahiran.

……. Apabila yang dilakukan itu suatu perbuatan jahat, maka atman akan terlempar ke neraka, di mana ia akan mengalami bermacam-macam siksaan. Bila akibat dari perbuatan jahat itu telah berakhir, maka atman akan lahir menjadi binatang yang rendah.

…..Sebaliknya bila perbuatan baik yang dilakukan, maka ia akan lahir di surga dan mengalami bermacam-macam kenikmatan. Setelah masa yang menyenangkan itu berakhir, ia akan lahir sebagai putra raja atau orang yang hidup makmur. Ia dapat ilmu tinggi. Ia melihat seluruh yang ada (vastu).

Lalu timbul keinginan beremansipasi (sambega) serta cinta dan pengabdian spritual. Semuanya ini diciptakan olehnya. Ini merupakan ikatan cinta Tuhan kepadanya. Karena Tuhan mencintainya, ia mampu mengalami jadmavasana, rasa lapar, rasa panas, rasa dingin, dosa dan kesengsaraan hidup. Bila ia mengetahui semua itu ia berkata. Wah! Sungguh hebat derita hidup ini. Dalam setiap kelahiran kejadian ini pasti dialami.

Bagaimanakah aku mendapatkan ketenangan dalam kelahiran yang banyak itu. Karena itu ia menemui seorang pendeta untuk menanyakan tentang arti hidup ini. Pendeta itu memberi pelajaran kepadanya, akan tetapi tidak dalam bentuk yang pasti. Sangat sulit ilmu visesa itu. Oleh karena itu ilmu dikupas dalam berbagai Kitab Suci. Berkat pengabdiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, semua kitab suci bisa dijadikan sumber untuk memperoleh pengertian tentang sifat-sifat Tuhan. Karena itulah terdapat banyak Kitab Suci.

Vrehaspati bertanya:

” Yang Mulia ijinkanlah hamba bertanya, manakah yang paling tinggi diantara ilmu-ilmu yang suci itu, Saiva, Pasupata atau Alepaka…?

Mahesvara menjawab:

Anakku! Tidak ada surga yang lebih rendah atau lebih tinggi. Aku telah membuat ketiga jalan itu sama bagi mereka yang mengikutinya. Hanya kekurang mampuan untuk mengerti pengetahuan itu menyebabkan adanya tinggi dan rendah tersebut. Penafsiran yang keliru mengakibatknan kesalahan……………

…………………..Wrhaspati Tattwa….

Kirang langkung ampura

Om Santih Santih Santih Om

Made M.

Abu Dhabi

http://singaraja.wordpress.co

~ oleh made24 pada Januari 24, 2010.

6 Tanggapan to “MENGAPA ADA BANYAK AJARAN DAN BANYAK KITAB SUCI”

  1. Sesama umat manusia hendaknya kita saling menghormati.. agar selalu terjaga bumi ini dari kehancuran karena manusia.
    Sudah seharusnya seluruh umat manusia bersatu..

    http://blogacim.co.cc/2009/02/seorang-profesor-dan-pendeta-hindu-mengajak-umat-hindu-masuk-islam/

    • Salah sejahtera,

      Demikianlah, mari kita jaga keharmonisan hubungan dengan sesama manusia dengan mengembangkan sikap saling hormat menghormati dan tepo selero.

      Damai

  2. Om Swastyastu
    Selalu menyenangkan mengetahui banyak info bagus secara mendalam. Namun pada tataran aplikasi, butuh pemahaman mendalam dan pandangan masing-masing pula. Terima kasih atas tambahan wawasan dari bapak…
    Om Santi Santi Santi, Om

    • Om Swastyastu,

      Suksma mewali Bu Santi,

      Betul sekali, aplikasi membutuhkan kesungguhan, keberanian dan keseriusan. Tentu masing-masing individupun berhak untuk mengaplikasikannya sesuai dengan pemahaman dan sesuai dengan caranya. Yang terpenting adalah tindakan nyata agar hasilnya langsung bisa dinikmati.

      Om Santih Santih Santih Om

  3. swastyastu

    semoga umat sedharma bisa lebih cerdas dalam memahami ajaran agamanya,sehingga lebih meningkatkan sradha dan bhakti terhadap Hyang Widi wasa

    • swastyastu,

      Lebih cerdas dalam memahami, lebih rajin dalam mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, lebih bijak dalam menempatkan diri pada kehidupan masyarakat yang plural. Semoga damai selalu

      Suksma Pak Jero Wayan…

      santih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: