Disability is not inability

Sejak dulu saya sering sekali dibuat terkagum-kagum oleh orang-orang yang notabenenya memiliki banyak keterbatasan tapi prestasinya bisa melejit melampoi orang-orang yang terlahir normal.

Sebut saja bocah cacad berusia 7 tahun yang menguasai banyak cabang olahraga, Cody McCasland. Alam Drumber profesional Tuna Netra pertama yang dimiliki negeri kita yang berhasil memenangkan berbagai lomba di tingkat nasional maupun internasional. Lena Maria seorang atlet nasional Swedia, terlahir tanpa tangan dengan hanya satu kaki yang tumbuh normal mampu menyabet 4 medali emas dan bisa hidup mandiri seperti orang normal (Footnotes: Hidup Tanpa Batas, Dastan, Jakarta, Mei 2009). Lain lagi dengan Muhammad Ammanatullah putra bungsu pasangan Alianto dan Nasifah, Gresik Jawa Timur, terlahir dengan tanpa kedua tangan dan kedua kakinya mengicil, mampu menyelesaikan ujian nasional dengan kedua kakinya (http://www.berita86.com/2009/04/anak-cacat-berprestasi-garap-soal-unas.html)

Belum lenyap kekaguman saya tiba-tiba perhatian saya terikat pada judul artikel di koran The National tanggal 20 April 2010, “Disability is not inability says unlikely movie Star”. karena penasaran saya tidak mau buang-buang waktu, saya baca perlahan bait demi bait tulisan yang dirangkai oleh Thulani Mpofu (Foreign Correspondent of The National).

Prudence Mabhena,21, seorang anak perempuan dari Jambezi, Victoria Falls, Zimbabwe. Terlahir dengan kondisi cacad. Penyakit arthrogryposis pada tangan dan kakinya sehingga dia harus menggunakan kursi roda. Kelahirannya yang cacad dianggap membawa aib bagi keluarga Bapaknya sehingga ibunya diceraikan. Prudence kemudian hidup bersama nenek dari ibunya.

Ketika usianya mencapai tujuh tahun, Prudence oleh nenek dari ibunya diantar kembali ke keluarga bapaknya. Ternyata bapaknya telah menikah dengan wanita lain. Prudence mendapatkan perlakuan yang tidak sepatutnya dia dihina, dan ibu tirinya bahkan tidak mau menyentuhnya. Selama dua tahun dia hidup seperti binatang, merangkak dilantai dan tidur diatas air kencingnya. Dia merasa sangat tersiksa, setiap hari dia berusaha merangkak menuju pohon mangga dibelakang rumahnya. Karena tidak tahan dengan perlakuan masyarakat dan keluarga terdekatnya, Prudence berusaha untuk melakukan aksi bunuh diri dua kali, namun selalu gagal.

Hingga suatu ketika ada orang yang membawanya ke King George IV Center, dimana para penyandang cacad tinggal. Di sini bakat bawaannya dikembangkan, dia kemudian menjadi lead singer pada grup music Liyana.

Ibarat sebuah roda pedati yang selalu berputar, kadang ada dibawah, kadang ada di atas, demikian pulalah kehidupan ini seolah bertutur. Dua tahun yang lalu seorang Amerika bernama Roger Ross William bersama kawannya Elinor Burkett membuat film documenter dengan judul Music by Prudence. Film ini berdurasi 33 menit, berhasil memenangkan piala oscar for the best short documentary. Film ini akan diputar pertamakali di HBO2 tanggal 12 Mei.

Praktis seorang anak penyandang cacad bawaan yang dihina oleh masyarakat disekitarnya dan juga diperlakukan tidak senonoh oleh keluarga terdekatnya, akhirnya menjadi seorang artis international yang terkenal. Dia kemudian bisa bertemu dengan Oprah Winfrey dan Mariah Carey.

“I am very proud of this oscar”, “The award is not only for me but for my band, Liyana, and Zimbabwe ” katanya. Wakil President Zimbabwe John Nkomo dan Deputy Prime Minister Zimbabwe Thokozani mengadakan pesta untuk Prudence.

Kedua orang tuanya Silingiwe Ncube (ibu), dan Herbert Mabhena (bapak) kemudian datang meminta maaf.Ketika kedua orangtuanya diwawancarai, sambil berlinang air mata ayahnya berkata: “I am happy about her achievements but Prudence was raised in a very bad way”, Ibunya saat diwawancara harian local mengatakan: ” We might be celebrating her achievement today, but she struggled”.

Mr.Joshua Malinga, yang kehilangan kedua kakinya karena terkena polio sewaktu kecil yang menjadi patron dari King George VI Centre, dimana Prudence dibesarkan mengatakan: “That victory gives me pride”, ” I am proud that the image of the image of the disabled may also change and the public’s perception that disability is inability will aso change”.

Made M./Ruwais-Abu Dhabi/21 April 2010

“SELAMAT HARI RAYA KARTINI”

~ oleh made24 pada April 21, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: