Hubungan Seks Yang Sakral

Belakangan ini marak terdengar berita-berita koran dan televisi memuat hubungan seks bebas. Semakin majunya perkembangan teknologi seakan tidak mampu berbuat banyak untuk membendung arus prilaku sek bebas. Padahal semua agama melarang prilaku sek bebas ini. Karena akan mendatangkan akibat yang tidak baik, ketika masih hidup di dunia mapun di akhirat.

Setiap orang dari kita tahu bahwa sek adalah merupakan kebutuhan biologis manusia. Bila hubungan sek bebas dikatakan tidak baik, lantas  pertanyaan berikutnya, seperti apakah hubungan sek yang baik itu?. Menurut pandangan Agama Hindu, hubungan sek itu dianggap sakral dan ada aturan mainnya seperti yang dijelaskan oleh Pandita Nabi Sri Bhagawan Dwija sebagai berikut:

Kesucian dalam berhubungan seks, banyak diatur dalam Manawa Dharmasastra, dll.:

1. Hubungan seks dalam Hindu tidak semata-mata “for fun” tetapi yang lebih utama adalah untuk mendapat keturunan yang disebut sebagai “dharma sampati.”

Dengan demikian seks di luar nikah, menurut Hindu adalah dosa, termasuk “paradara” dalam trikaya parisuda (kayika).

2. Hubungan seks antara S/I agar dilakukan secara sakral:

  1. Membersihkan badan/ mandi terlebih dahulu
  2. Sembahyang mohon restu Dewa-Dewi Smara Ratih
  3. Hubungan seks jangan dilakukan:
    • ketika sedang marah, mabuk, tidak sadar, sedih, takut, terlalu senang.
    • ketika wanita sedang haid
    • waktu yang tidak tepat: siang kangin (fajar), bajeg surya (tengah hari), sandyakala (menjelang matahari terbenam), purnama, tilem, rerainan (hari raya), odalan, sedang melaksanakan upacara panca yadnya.
    • jangan meniru “gaya binatang”, yang disebut “alangkahi akasa” (melangkahi angkasa)
    • dalam berhubungan seks selalu berbentuk “lingga-yoni”
  4. Kalau senang hubungan seks diiringi musik, pilih yang slow/ tenang, jangan lagu dangdut atau yang ribut/ underground atau house-music, apalagi gaya tripping. Makanya di Bali dahulu ada gambelan “semare pegulingan” (artinya: asmara di tempat tidur) adalah jenis gambelan khas yang di tabuh di Puri-Puri di saat Raja sedang berintim ria dengan Permaisuri.

3. Bila hubungan seks dilaksanakan dengan patut sesuai swadharma kama sutra, maka anak yang lahir mudah-mudahan berbudi pekerti yang baik, menuruti nasihat ortu, rajin sembahyang, pintar, sehat, pandai bergaul dan hidupnya sukses.

Tetapi bila hubungan seks menyimpang, maka anak yang lahir disebut anak “dia-diu” yakni: bandel, menyakiti hati ortu, bodoh, jahat, banyak musuh, sulit hidupnya, sakit-sakitan.

Demikian sekedar resep bagi kaum muda.

~ oleh made24 pada Juli 16, 2010.

29 Tanggapan to “Hubungan Seks Yang Sakral”

  1. wah mantab nih….maaf saya muslim, tapi saya rasa ajaran setiap agama sama, seperti halnya dalam muslim, ajaran tentang hubungan suami istri, sebagian besar sama…..makasih ya, sedang belajar literatur hindu, maklum tinggal di Bali, dan saya suka tradisi Hindu Bali…excelent

    • Salam Sejahtera,

      Terimakasih pak Syaifudin, telah berkenan berkunjung ke blog kami, Bapak benar, semoga bermanfaat.

      Salam sukses dan bahagia selalu

      made m

  2. OSA….
    Bli Made, saya sedang mencari literatur tentang pura di bali, mengenai tingkatan dan fungsinya, sepengetahuan saya, pura – pura di Bali ada tingkatannya, seperti Pura Kahyangan Tiga, Dhang Kahyangan De el el.(Maaf Klo salah Tulis). Ada ga tentang itu di Blog INi??? Makasih, maaf ya klo cerewet…🙂

  3. bli made saya perlu bacaan yang mengulas tentang adat perkawinan dimasing-masing kabupaten di bali. suksma

    • Om swastyastu…

      Suksma Gede, telah mampir ring Blog titiang, saat ini penerbit Buku Hindu yang cukup besar itu : Paramitha dan Manik Geni, coba deh cari katalog dari kedua penerbit itu mudah2an ada yang mengulas tentang adat perkawinan di masing2 kabupaten di Bali. Kalo tidak, Gede bisa memulai untuk menulis bukunya dengan melakukan penelitian sendiri atau riset sendiri ke lapangan dengan mewawancara para klian adat di masing2 kabupaten dengan mengambil beberapa sampel..

      Inggih kirang langkungne ampura

      Santih

      Made M.

  4. Om swastyastu Pak..
    Kalau Pak Made berkenan,tityang mau bertanya,belakangan ini banyak titiyang lihat di media (tv,koran,dll) yang mensosialisasikan masalah penggunaan kondom (karena penderita HIV/AIDS sudah banyak). Nah, sekilas tampaknya justru bukan anjuran untuk tidak melakukan seks pranikah yang disosialisasikan. Bagaimana menurut pendapat Bapak?? Kemudian Ajaran Agama Hindu yang mana yang menurut Bapak melarang seks pranikah itu Pak??
    Maaf cerewet tityang niki (maklum anak muda Pak)🙂
    Suksma.

    • Om Swastyastu,

      Suksma pisan sampun ledang nyurat ring blog titiang.
      Jangan sungkan-sungkan untuk bertanya, titiang akan berusaha untuk memberikan penjelasan sebisa tiang. Tujuan dibuatnya Blog inipun adalah untuk sharing informasi termasuk di dalamnya tanya jawab…

      Sebuah pertanyaan yang cerdas. Ya Pak Nengah benar bahwa saat ini pemerintah menganjurkan penggunaan kondom untuk mencegah penyebaran HIV/AIDs yang sangat menakutkan. Menurut pendapat titiang pribadi, hal ini mungkin dilakukan oleh pemerintah lantaran kenyataan di masyarakat saat ini sex bebas / kumpul kebo itu sudah umum, dengan kata lain jika sex bebas ini tidak bisa dicegah, paling tidak akibat lanjutannya yang bisa dikurangi.

      Padahal kalo mau konsisten, setiap agama melarang melakukan hubungan sex bebas, Indonesia sebagai negara yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa, mestinya gencar melakukan kampanye “Say… NO for FREE SEX & KUMPUL KEBO”.

      Hindu melarang Sex Bebas dan Kumpul Kebo, juga Aborsi berikut sumbernya ajarannya:

      Sex bebas dan “kumpul kebo” dalam Agama Hindu dilarang dan termasuk perbuatan adharma atau perbuatan dosa. Acuannya adalah Kitab suci Manawa Dharmasastra Tritiyo Dhyayah, III,63 :
      “Kuwiwahaih kriya lopair, wedanadhyayanena ca, kulanya kulam tamyanti, brahmanati kramena ca”
      Artinya: Dengan berhubungan sex secara rendah diluar cara-cara perkawinan (brahmana wiwaha, prajapati wiwaha dan daiwa wiwaha), dengan mengabaikan upacara pawiwahan, dengan mengabaikan weda, dengan tingkah laku hina, tidak memperhatikan nasihat Sulinggih maka keluarga-keluarga besar, kaya dan berpengaruh akan hancur berantakan.

      Acuan lain adalah Kitab suci Parasara Dharmasastra, Dasamo Dhyayah, X.1: “Catur varnamsya sarva trahiyam prokta tu niskrtih, agamyagamate ca iva suddhau candrayanam caret”
      Artinya: Aku (Hyang Widhi) telah menguraikan tentang upacara penebusan dosa bagi keempat golongan sosial; seorang laki-laki setelah menggauli seorang wanita yang dilarang untuknya harus melakukan penebusan dosa candrayanam.

      Juga di pasal X.30: ” Jarena janayed garbhe tyakte mrte patau, tam tyajed apare rastre patitam papa karinim”
      Artinya: Wanita yang memperoleh kehamilan dengan kekasih gelapnya (tidak melalui upacara pawiwahan), atau setelah ditinggal suaminya atau selama ketidak hadiran suaminya di negeri jauh, harus diusir kesebuah kerajaan asing (keluar wilayah).

      Selain itu dalam Sarasamuccaya yang menguraikan tentang Trikaya Parisudha, disebutkan salah satu dosa dari Kayika (perbuatan) adalah “Paradara” atau dalam bahasa sekarang “berzina” sebagaimana tertulis dalam pasal 153 :
      “Paradara na gantavyah sarvavarnesu karhicit, na hidrcamanayusyam yathanyastrinisevanam”
      Artinya: Menggoda, memperkosa, menggauli wanita dengan usaha curang (tidak melalui pawiwahan) jangan dilakukan karena akan menyebabkan dosa dan berumur pendek.

      Dalam Lontar Dharma Kauripan disebutkan bahwa anak yang lahir diluar perkawinan adalah anak “dia-diu”, anak yang cuntaka, akan mengalami hidup yang susah. Hubungan sex sebelum pawiwahan dikatakan sebagai dosa yang disebut “kama kaperagan”.
      Aborsi dengan alasan apapun tidak direstui karena pelakunya akan terkena dosa pembunuhan. Hal ini ditegaskan dalam Lontar Yama Purana Tattwa, bahwa mereka yang membunuh janin dalam kandungan dikutuk oleh Bhatara Yama. Dalam ephos Mahabharata, Aswatama dikutuk oleh Bhatara Kresna karena membunuh janin-janin keturunan Pendawa yang masih dalam kandungan.
      Jadi dalam kasus Aborsi yang terkena dosa adalah : Ayah-Ibu bayi, Dokter atau Balian yang membantu aborsi.

      Bagaimana Pacaran menurut Hindu baca link berikut pada web ini:

      Suksma

      Om Santih Santih Santih

      • Suksma dahat Pak,
        Terima kasih banyak atas tanggapan Bapak Made yang sangat mencerahkan saya. Untuk saat ini saya memang belum bisa berbuat banyak ketika melihat perilaku “yang dianggap umum” itu (saya dianggap ketinggalan jaman, hehehe🙂 ). Tapi saya yakin pada akhirnya hanya Kebenaran Tuhan yang berlaku, dan Ajaran Agama adalah kebenaran yang paling dekat dengan kebenaran Tuhan itu. Jadi, saat ini yang harus saya ikuti adalah kebenaran Agama yang telah disuratkan dalam kitab suci. Melalui ulasan Bapak yang sangat berharga ini semoga saya bisa mengamalkan nilai-nilai Dharma kepada diri dan orang-orang di sekitar saya.

        Suksma.
        Om santih santih santih Om.

  5. om suastiastu… tiang mau nanya, kalo seseorang tinggal dalam satu mah tanpa ikatan pernikahan, akan menodai pekarangan rumah? kalau iya, upacara apa yang harus dilakukan menurut hindu?

    • Om Swastyastu,

      Iya benar, rumah akan ternoda, silahkan melakukan pecaruan eka sata untuk membersihkan rumah agar aura kedamaian/kebaikan bisa bersinar lagi di rumah Anda, sehingga rumah benar-benar menjadi tempat yang nyaman bagi anggota keluarga dan tamu yang singgah..

      Santih
      made m/abu dhabi

  6. om swastiastu…..

    maaf bli saya mau nanya… ada ga hukumnya dalam ajaran agama hindu klo seorang wanita yang beragama hindu pacaran dengan pria yang beragama lain???

    suksma
    Om santi santi santi Om

    • om swastyastu..

      Orang pacaran tujuannya adalah untuk menemukan pasangan hidup, pada akhirnya nanti menikah. Bila ingin menikah secara Hindu maka orang yang nikah itu mesti Hindu baru upacara itu akan memberikan manfaat.

      Menikah adalah untuk menyatukan dua keluarga yang berbeda, latar belakang dan kebiasaan. Kedua belah pihak harus bisa menerima keluarga masing-masing, dan keluarga kedua belah pihak harus bisa menerima sang mempelai. Karena restu kedua orang tua adalah pintu sukses, di dunia ini. Jika salah satu orang tua tidak menyetujui tentu saja peluang sukses akan berkurang.

      Orang tua berjuang untuk kehadiran kita di dunia ini, mulai dari dalam kandungan, kemudian melahirkan, membesarkan, menjaga dari mara bahaya, menyekolahkan kita hingga kita menjadi anak yang dewasa, tentu sudah sepantasnya bila kita mampu memberikan kebahagiaan pada mereka.

      Dalam Agama Hindu, karena Hindu adalah Agama pertama, tidak ada menjelaskan pacaran Beda Agama.

      Namun dalam praktiknya, menikah beda agama sangatlah beresiko, Bli Made beberapa kali mendapat curhat dari seorang teman yang menikah beda agama dan budaya, sangat berat. Anak-anak nantinya tidak memiliki iman yang kuat, karena ikut ibu kasihan Bapak, Ikut Bapak kasihan Ibu… memilih yang di luar Bapak dan Ibu, tidak enak sama orang tua. Serba salah, jadilah sang Anak tidak kuat pondasi hidupnya, sehingga mudah terombang ambing oleh kehidupan, nah kalo sudah begitu yang namanya kebahagiaan sudah sulit dicapai…

      Demikian Chety masukan dari Bli Made..

      Mohon maaf telat menanggapinya, maklum namanya juga kuli hi hi hi hi….

      Santih..

  7. Om swastiastu..

    maaf pak made mau nanya donk gimana siih pandangan agama hindu tentang hubungan sejenis,, baru2 ini teman saya mengalamii itu dia mnyukai sesama wanita saya mau kasii masukkan namun saya agak ragu klw saya bcara tnpa ada dasar saya takut salah ajja,, dan appakah itu smua d bnci ama ida sang hyang widi wasa.. mohon pnjelasan yah pak.. suksma..

  8. om swastiastu,,
    maaf nii bli mau nanya gimana siih pndangan hindu ttg hub sejenis,, temen saya mengalami itu akir2 ini dy d sukai sama seorang cewek dan dy smpat pacaran namun temen saya awalnya g tw klw dy itu cew krena anak itu nyamar.. tpi skarang temen saya masii ska jalan bareng,, saya mau ngingetin cma takut salah ajja,, hukumnya d hindu itu gmna blii,, suksma,,

    • Om Swastyastu,

      Dalam hindu, hubungan Sex itu sangat disucikan, ada kekuatan yang disebut dengan Ojas Sakti, yang dimiliki oleh setiap manusia, ketika masa Brahmacari, kita memperlukan energi untuk mempelajari ilmu dan menguasainya agar nanti ketika masuk masa grehasta hidup menjadi mudah seperti kata Einstein : Sains membuat hidup manusia menjadi mudah.

      Hubungan Sex sangat disakralkan dan hanya dilakukan setelah melalui perkawinan yang sah untuk mendapatkan Suputra dan memberikan kesempatan kepada roh/atma leluhur untuk bereinkarnasi agar bisa mencapai peningkatan hidup hingga mencapai moksa, oleh karenanya sangat disucikan. Hubungan sex diluar ini tidak dibenarkan.

      Untuk hubungan sejenis, Hindu tidak menganjurkan juga tidak melarang, karena sistem pengajaran di Hindu ditekankan pada Hukum karma phala, setiap insan bebas melakukan pilihan hidupnya, tinggal siap untuk memetik hasilnya kelak, kalo kebaikan yang ditabur maka kebaikan yang akan dipetik, kalo ketidak baikan yang ditabur maka ketidak baikan yang akan dipetik.

      Benih Penciptaan (Svanita dan Svalita) ini adalah kekuatan luar biasa dengan meditasi bisa diolah menjadi ojas sakti, yang menjadi media untuk terciptanya manusia (pertemuan sperma dan sel telur menghasilkan ciptaan) mencapai orgasme. Yang dilakukan antara lawan jenis setelah melalui proses upacara yang suci (pernikahan).

      Orgasme yang dicapai dengan cara-cara bukan melalui pernikahan untuk menciptakan keturunan termasuk hal yang tidak baik. Orgasme dengan lawan jenis setelah melalui proses pernikahan yang suci adalah hal yang baik.

      Hubungan sejenis termasuk hal yang tidak baik, apalagi sampai orgasme dengan aktivitas sex, ini tidak baik tentu saja akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik kelak, oleh karena itu jangan dilakukan!!!!

      Demikian masukan dari Bli Made..

      Kirang langkungne ampura

      Om Santih Santih Santih OM

  9. suksma blii,, tpii ada g sii akibatnya klw ampee dilakuiinn,, mohon pnjlesan bli hehhe

    • Suksma Mewali..

      Setiap karma pasti ada phalanya, setiap perbuatan pasti ada hasilnya… setiap sebab pasti ada akibatnya.

      Seperti yang Bli jelaskan Pandangan Hindu tentang Sexs sangat disucikan, untuk melestarikan generasi, untuk memberikan kesempatan pada leluhur untuk bereinkarnasi seperti yang kita dapatkan sekarang, untuk meningkatkan diri hingga mencapai moksa.
      Sex dilakukan dengan lawan jenis setelah melalui upacara pernikahan yang sah (saksi dewa, saksi manusia, saksi butha) agar tujuan tadi terlaksana

      Kalo melakukan sex di luar itu tentu ada akibatnya, yaitu tidak suci dan tidak sesuai dengan ajaran agama kita… Mengumbar/mengikuti nafsu nafsu tidaklah dibenarkan. Oleh karena itu harus dihentikan.

      Demikian kurang lebihnya mohon maaf

      Shantih…
      Made M.

  10. Om Swastiastu

    Bli Made, saya ingin menanyakan tentang seks diluar nikah,apabila seseorang yang sudah melakukan seks diluar nikah,apakah orang tersebut tidak suci dan untuk penyelesaiannya seperti apa menurut agama Hindu ?
    Terima Kasih

    • Om Swastyastu,

      Bila perbuatan sex diluar nikah telah dilakukan, tentu saja orang itu sudah kotor, maka pembersihan yang bisa dilakukan:

      1. Bertobat untuk tidak melakukan lagi (tidak mengulanginya lagi, karena sekarang sudah tahu itu tidak benar)
      2. Berpuasa, mohon maaf pada Hyang Widdhi yang telah mengkaruniai kita dengan organ-organ sex, yang telah disalah gunakan
      3. Rajin meditasi dan bersembahyang
      4. Rajin berdana punia pada mereka yang membutuhkan (dana, ilmu, tenaga, dll)
      5. Untuk upacaranya tanyakan ke Griya (Pedanda/Sri Empu/Bhagavan….)
      6. Ajarkan pada adik-adik dan saudara-saudara dan teman-teman bahwa jangan sampai melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama.
      7. Hormat kepada orang tua, karena orang tua yang membuat kita Ada, Beliau adalah Deva sekala. Segala sesuatu, mesti mendapat restu dari orang tua, kalo ingin berhasil….

      Demikian penjelasan singkatnya, kurang lebihnya mohon maaf

      santih
      MM

  11. sy(umur68th lebih) ingin sharing ttg tulisan ida bgw dan pak made sbb, dlm praktek klg sy laksanakan sbb:
    1. sy, suami istri, dg 4anak(2lk+2pr)+9 cucu. Sy puasa saat otonan masing2. Sy minim sms kpd masing2,ngatakan bbw sy puasa(puasa kadang2 24 jam atau12 jam. Sy anjurkan ybs juga puasa saat itu(minim 6 jam sblmnya saya sms. Saya pasrah ttg tanggapan anak2 saya, ikut puasa/tidak dsb.. Maklum jaman skr anak2 “tak tahu pawukon.
    2. Sy puasa saat oton saya ataupun oton istri saya(walau istri orang jawa:dg tgl lahir saya cari manual oton bisa.
    3 saya jugapuasa saat hari meninggalnya ortu/mertua saya (pancawara,saptawara+wuku) ke 2 ortu/mertua
    4.sy juga puasa hari wafatnya orang yg sempat mencerahkan saya secara terpilih, seperti guru subandi/ahli babad
    5. juga (odalan/kelahiran ) darmaadyaksa Pedanda Sebali(tentu seijin beliau)
    6. Sy pilih dewasa pernikahananak2 sy secara umum mengacu pedoman wariga (bbrp buku al SriRsi Ananda Kusuma(alm)
    7.Secara khusus:Kalender karangan KT BAMBANG GDE RAWI yang di setiap lembarnya(dibawah “ala-ayuning dewasa” mencantumkan sbb:
    catatan: atiwa2 dilaksanakan ………………………..dsb
    PEMADA SEMARA TAK BOLEH DILAKUKAN PADA SAAT OTON MASING2,UNTUK MENDAPATKAN SUPUTRA dsb.. Jadi setiap oton/suami istri tak boleh sanggama agar dapat suputra.
    Itulah sebabnya: sy tak pilih oton ybs untuk hr pernikahannya,, saya hafal oton saya+istri+anak+cucu+guru spiritual+mertua(orang jawa).
    Saya puas dengan perkembangan anak2 saya(skr umur 32-38th)dan cucu2 saya (6-9th) Mudah2an mencerahkan. Saya mohon komentar para CENDEKIAWAN HINDU/ PENDAPATNYA. IdaBgw Dwija tak nyebut otonan sbg LARANGAN HUB SEX.,, selain prawani,purnama lilim,odalan/hr raya dsb. Tapi saya ya Matur suksama, ida bgw ataupun siapapun juga.
    Sy ada rencana merayakan hut ke 69 (Tgl 11-10-2011 hampir bersamaan
    dg 120 OTON{tgl 8-10-2012 Senen KlionKrulut
    masuk ke BHIKSUKA/SANYASIN

    catatan: Lahir 11-10-1943 = Senen Klion Krulut= umur0 tahun
    U:40oton 10-10-1966=SenenKlion Krulut= umur=23th-1 hr
    23 th 11-10-1966=SelasaUmanis Krulut=umur 23
    U 80 oton 9-10-1989= Senen Klion Krulut= umur =46 th-2hr
    46 th 11-10-1989= Rebo Paing Krulut= umur 46 th
    U 120 oton 8-10-2012=Senen Klion Krulut=Umur 69th-3 hr
    69 th 11-10-2012 KemisPon Krulut=Umur 69 th

    Jadi Brahmacari: Umur 0-23 th standard lulus sarjana /selalu maotonan
    Grahasta 23-46 th menikah,puasa oton suami istri
    Wanaprasta 46-69 th punya mantu+cucu,siap pensiun 100%
    Sanyasin 69 dst thsiap game he he he
    Saya mohon semua merenungkannya

    • Om Swatyastu,

      Inggih terimakasih pak Putu atas masukan, sharing dan informasinya. semoga apa yang Pak Putu rencanakan berjalan dengan lancar tiada suatu aral yang melintang… semoga kedamaian dan kebahagiaan senantiasa menjadi teman kita.

      Santih
      MM

  12. sy sangt suka tulisan ini. sebb sangt sult mncari ank yg suputra

  13. OSA
    saya memiliki pertanyaan. dalam kitab suci Parasara Dharmasastra, Dasamo Dhyayah, X.1 tertulis “Catur varnamsya sarva trahiyam prokta tu niskrtih, agamyagamate ca iva suddhau candrayanam caret”
    Artinya: Aku (Hyang Widhi) telah menguraikan tentang upacara penebusan dosa bagi keempat golongan sosial; seorang laki-laki setelah menggauli seorang wanita yang dilarang untuknya harus melakukan penebusan dosa candrayanam.
    seperti apa itu penebusan dosa Candrayanam. dari kitab di atas hanya ditujukan pada laki-laki saya, lalu bagaimana dengan pihak perempuan yang setelah mengetahui perbuatannya salah dan ingin menebus dosa? penebusan dosa apa yang harus dilakukan.
    terima kasih Om santih Santih Santih Om

  14. osa…
    ehmmm… mohon maaf sebelum nya, bolehkah bpk memberikan saya informasi mengenai kasus aborsi yang di lakukan bidan dan bagaimana menurut pandangn salah satu adat di bali.. terima kasih. om santi santi santi om…

    • om swastyastu
      aborsi dilakukan oleh siapapun hukumnya adalah sama seperti penjelasan di atas.
      secara agama itu tidak dibenarkan, dosanya besar sekali sama dengan pembunuhan.
      pandangan di desa adat kami, hal ini tidak dibenarkan/dilarang

      santih

  15. OSA Pak Made, mohon maaf tiang mau bertanya, tiang berencana menikah bulan april ini, tapi di rumah calon suami saya ada dua orang gadis (kemungkinan sudah hamil), juga rencana akan menikah pada bulan tersebut. Apakah boleh saya tetap melangsugkan pernikahan, ataukah harus ada jeda jangka waktu tertentu? Matur Suksma.

    • Om Swastyastu,

      Sampun titiang jelaskan ring FB
      SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU, SEMOGA LANGGENG DAN SUKSES SELALU

      Santih
      Made M.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: