Sebuah Cerita membangun Bali

Om Swastyastu,

Pagi itu tampak beberapa pemuda sedang asyik menyantap pisang goreng sambil minum kopi olah basah produk putra Bali, di sebuah warung kecil mungil terbuat dari bambu yang berdiri di pinggir jalan di bawah pohon rindang…Seorang pemuda berperawakan pendek bermata sipit berkulit sawo matang kekuningan, sering dipanggil akrab Bli De.. dengan tenang berkata mengawali percakapan itu,

” Semakin hari semakin banyak jumlah penduduk di Bali, semakin hari semakin sempit tanah yang dimiliki karena tanah itu berkurang jumlahnya terkikis oleh arus di tepi-tepi pantai. Lahan pertanian dan perkebunan beralih fungsi menjadi tempat pemukiman, hutan-hutan dirabas menjadi tanah bertanian/perkebunan, maka sumber-sumber air menjadi mongering karena berkurangnya pepohonan besar… demikian pula tanah longsor semakin banyak… udara semakin panas…

Bila kita pergi ke Desa, bertanya pada salah satu penduduk apa Agama mereka, mereka dengan serempak menjawab Hindu, karena tertulis demikian di KTP, juga karena orang tuanya beragama Hindu. Ketika kita Tanya kitab sucinya… beberapa mengatakan lontar… beberapa mengatakan Veda. Ditanya selanjutnya apakah saya bisa lihat kitab suci Veda itu….? Kelimpunganlah mereka….. Beberapa dari mereka ada mengeluarkan Upadeca, Weda Parikrama, ada juga yang mengeluarkan Bhagavadgita, ada juga yang mengeluarkan Sarassammuccaya, selebihnya adalah kitab-kitab geguritan Sucita Subudi, Geguritan I Cangak…

Ketika umat tidak mengetahui Kitab Sucinya…. Bagaimakah caranya…?

Seorang temannya yang agak gendut, berpakaian serba biru menimpali…”

Ketika kita perhatikan pelaksanaan spiritual sehari-hari ada beberapa penduduk membangun pelinggih terus… suatu ketika setelah ditanya, kenapa harus membangun pelinggih ini itu…? Padahal jumlah pelinggihnya sudah banyak?, ternyata setelah ditelusuri… hal itu mendapat petunjuk dari Balian…. Karena sebelumnya sakit terus datang ke Balian bertanya, harus nyungsung Dewa A, Ida Bethara B, padahal pendapatannya pas-pasan, setiap ada pelinggih tentu harus dibaktinin… ujung-ujungnya pengeluaran membengkak untuk yadnya pelinggih ini pelinggih itu, sehingga nunggak bayar SPP anak.

Seorang lagi yang kurus kering duduk disebelah Si genduk berkata : Ahk….  Saya bertanya dalam diri, kalo kita memang beragama Hindu, terus kita tidak bisa memiliki Kitab suci yang bisa kita jadikan panutan, atau acuan melangkah, maka cara yang mungkin apa yah….hmmm mungkin bertanya pada orang yang menguasai Kitab Suci Veda, nah menurut system pembelajaran Hindu, orang yang paling menguasai adalah mereka yang telah mencapai Sulinggih atau di Dwijati… Bisa Sri Empu, Bisa Bhagavan, Bisa Rsi, Bisa Pedanda, Sri Brahmana, dll…..

Salah seorang teman menyela… “Bli De banyak teman-teman enggan ke griya mereka berkata,  yen metakon ke Pandita/Sulinggih sinah be harus ke Griya, Beh sing juari nangkil ke Griya sing nawang sor singgih basa lek atine…”.. nah lantas gimana dong..? Kalo umatnya malu tangkil ke Griya, lantas bagaimana bisa mendapatkan bimbingan….?

Ketika arah atau acuan yang dipakai rancu lantas bagaimana pembangunan mental dari generasi muda? Kira-kira kalo kita membangun Bali apa yah yang bisa dilakukan…?

Lagi seorang teman menyela… Bli De.. berdayakan saja Parisada sebagai lembaga tertinggi Hindu”, bagaimana caranya..? orang Parisadanya saja pecah kok…?

Teman yang satunya lagi menyela…Bli  De..Bali kan masih kuat tuh Sistem Adatnya, kenapa gak semua Klian Adat di Bali ditraining, dididik di pesraman para sulinggih untuk mejadi agent of change… sehingga awig-awig yang dibuat selain menghormati local genius juga mendasarkan diri pada Veda?

Teman yang satunya lagi nyahut… Eh.. kira-kira diseluruh Bali ada berapa sulinggih yah…? Let say.. 100 sulinggih, di Bali ada berapa Kecamatan…? Jika Sulinggih dan para muridnya turun gunung untuk memberikan Dharma Sastra dan diberikan tugas untuk memegang satu Kecamatan atau beberapa desa, mungkin gak yah…..?

Jangan lupa kumpulkan semua pemangku yang ada, kemudian Sang Sulinggih datang untuk memberikan pencerahan dan bimbingan, para pemangku ini kemudian menjadi kepanjangan Tangan dari Para Sulinggih untuk membimbing umat di desanya..

Teman yang dari tadi dipojok sambil manggut-manggut gak mau ketinggalan…. Eh Bali kan Ada UNUD, STAH, IHD, dll bisa gak universitas-universitas ini diberdayakan untuk mencetak agent of change…? Melakukan studi langsung kelapangan berkolaborasi dengan Para Sulinggih dan Klian Adat untuk memajukan daerah masing-masing…?

Teman yang sedang minum kopi olah Basah produk putra Bali juga tidak mau hanya menjadi pendengar…? Bisa gak yah pelajaran Yoga masuk ke kurikulum sekolah-sekolah SD, SMP dan SMA di Bali, agar generasi muda kita bisa berfikir jernih dan harmonis kan nanti bisa menguasai ilmu dan teknologi dengan tepat guna……..

Si kecil yang dari tadi mesem-mesem, berkata… Akh semua cerita tentang spritual dan mental ,emang bisa toh melakukan semua itu kalo perut keroncongan…? pikirin tuh cara untuk membuka lowongan pekerjaan… pikirin tuh bagaimana caranya orang Bali biar jadi bos di negeri sendiri, jangan jadi kuli di negeri sendiri… pikirin tuh gimana agar orang Bali mendapatkan manfaat dari keindahan alamnya dan dari keagungan budayanya… jangan orang lain yang menikmati untungnya…?

Wah obrolan ini menjadi semakin jauh saja……………… gak terasa tuh waktunya warung kopi olah basah tutup, setiap orang masih bergelut di benak masing-masing memikirkan opini dari kawan-kawannya….

Santih…, Abu Dhabi, 16 Mar 2011, MDM, http://www.singaraja.wordpress.com

~ oleh made24 pada Maret 16, 2011.

2 Tanggapan to “Sebuah Cerita membangun Bali”

  1. Om Swastyastu ,

    Bli Made , serasa saya ikut nimbrung ngopi di sana.

    Kalau boleh para sulinggih lebih berperan aktif di masyarakat untuk memberikan pencerahan sesuai kitab suci Hindu, bukan berdasarkan Lontar lontar yang sering tidak jelas Pengarang dan isinya dapat menyimpang dari ajaran Hindu.
    Jangan masyarakat dicekoki dengan ketakutan2 yang tidak berdasar sehingga masyarakat terjerumus dan dipaksa untuk membuat banten yang harganya mahal . Kapan orang Bali bisa maju kalau hari2nya dipenuhi oleh membuat banten dan perasaan2 takut.
    Sebaiknya para sulinggih dibekali juga ajaran spiritual yang bersifat universal sehingga umat dan adat tidak menjadi kaku .

    OM Santhi Santhi Santhi OM

    • Om Swastyastu,

      Suksma Srinata…

      Inggih demikianlah mestinya, diajarkan untuk mengikuti kitab suci Veda, simple, sederhana tapi beres. .

      Membuat Banten sebenarnya adalah hal yang baik, namun harus tepat sasaran dan sastranya, tidak asal buat banten….

      Semoga Para Sulinggih bisa bersatu, menghasilkan buah karya yang baik… Sulinggih ini bisa lebih mudah digerakkan bersama bila ada permintaan dari guru wisesa (pemerintah….)

      Semoga damai dan bahagia selalu.

      Santih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: