Warung Kopi. (Edisi: Mimpi Membangun Bali)

Sore itu hujan lebat tidak berhenti juga, udara semakin dingin berhembus, apalagi warung itu terletak di punduk bukit Kapas Jawa. Di beri nama Kapas Jawa, dulu ketika jaman Kompeni berkuasa, tempat ini dijadikan tempat untuk menanam kapas, karena lokasi dan iklimnya menunjang.  Jaman dahulu banyak produk yang dipakai di Bali didatangkan dari Jawa, termasuk bibit kapas , maka tidak heran kalo kemudian  kapas itu disebut Kapas dari Jawa atau kependekannya menjadi  Kapas Jawa. Sejak itulah maka tempat ini diberi nama Kapas Jawa. Dalam beberapa hal orang Bali tidak mau kalah, karena orang Jawa punya Gula Jawa, maka orang Bali yang juga memproduksi sendiri gula merah yang dipakai sehari-hari memberi nama Gula Bali, kemudian lahir pula Lengis Bali (Minyak Goreng), lahir juga nama Jeruk Bali, Salak Bali, Jalak Bali, Tari Bali, dst..

“Udara yang dingin begini enaknya minum kopi, ada banyak jenis kopi, bagi mereka yang di Singaraja, mereka memiliki kopi produk sendiri yang disebut kopi torabika olah basah. Kopi ini digemari oleh banyak orang, termasuk penduduk pribumi. Dingin-dingin begini memang enaknya minum kopi ditemani pisang goreng yang terbuat dari pisang Raja, di Kapas Jawa ini orang lebih suka bikin pisang goreng pakai Pisang Raja, tidak seperti di Cilegon- Banten orang lebih banyak jual pisang goreng dari pisang Kepok yang diiris-iris tipis seperti kipas, disebutlah pisang kipas. Irisan tipis ini membuat dia mudah garing bilang digoreng, sehingga sangat renyah bila digigit,  karena rasanya yang enak dan renyah banyak juga orang yang suka pisang ini. Di Abu Dhabi, mencari pisang kapok sangat sulit, yang ada hanya pisang nangka, ternyata pisang ini juga tidak kalah enak dengan pisang raja atau pisang kapok. Di sana banyak tersedia coklat dan keju, Ibu-Ibu disana sering membuat pisang goreng diolesi coklat atau keju di dalamnya, maka muncullah pisang keju dan pisang coklat. Saat musim dingin enak sekali minum kopi ditemani pisang goreng ini… Demikian Bli De memulai pembicaraan di warung kopi.

Tampak Bli Bogler yang biasanya diam menggerutu; “ Iya bener Bli De… Apalagi sambil berdiskusi, rembugin bagaimana membangun Bali…enak kali yah…. …?”

Bli De : … Akh Bli Bogler kayak pejabat aja ngomongin pembangunan Bali, sudah bosen dengernya, tetap aja kita begini-begini aja, gak ada perubahan!

Bli Tut: … Akh malaslah berdiskusi kayak wakil rakyat aja, adu urat leher, kalo bakso pake urat ma enak, debat pake urat gak bawa apa-apa, mana dampaknya buat kita, tetap aja banyak penggangguran, banyak yang buta huruf…

Bli Boglar…Eit.. jangan negative dulu dong… bagaimanapun diskusi ini adalah bagian dari budaya kita yang mesti kita lestarikan, sejak dahulu kala moyang kita juga suka berdiskusi untuk menyelesaikan masalah bersama, cuma namanya aja beda, mereka nyebutnya Paum… Sangkep, apa isinya… yang berdiskusi… Akh Bli Tut jeg meboye gen…

Bli De: ..Iya sih.. tapi apa manfaat yang kita dapatkan dari hanya omong-omong aja, kayak NATO, No Action Talk Only…

Bli Tut: Apa artinya Bli De…? Beh baru pernah tinggal di Abu Dhabi jeg sombong sekali pake Bahasa apea itu …?

Bli De:…Heheheh  gak juga sih… NATO: No Action Talk Only artinya: Ngomong doang gak ada tindakan nyata..

Bli Tut”… Oh gitu toh… Nah Bli Boglar dari tadi Bli nyebut-nyebut pembangunan Bali, nah coba jelaskan ke kita-kita ini gimana cara membangun Bali…(pura-pura seken malu ne heheehehe)?

Bli Boglar: “ Nah gitu dong baru pemuda Bali namanya, peduli sama keadaan Bali, coba lihat Bali itu kaya, indah, cantik, terkenal di seluruh dunia, banyak orang yang datang ke Bali mencari nafkah selain berlibur, banyak buku terlahir dari para penulis, banyak lukisan tentang Bali lahir dari para pelukis, bahkan seorang Antonio Blanco aja sampai jatuh cinta sama Bali, Baru-baru ini dunia perfilm juga mulai tertarik pada Bali… “Eat Pray and Love “ Julia Robert aja ampe berkunjung ke Bali, Petenis Rusia dan Jepang juga ikut tuh bersembahyang ala Bali sebelum pertandingan..”

Bli De: “ Iya Bli… dulu ketika saya di Saudi Arabia, disana ada toko Bali, saya pikir yang punya orang Bali, atau toko yang menjual barang-barang dari Bali ,eh ternyata itu hanya namanya doang Bali, toko tersebut sebenarnya hanya menjual produk-produk Indonesia, cukup pintar juga tuh orang memanfaatkan ketenaran Bali untuk mempromosikan tokonya …”

Bli Tut: “ Oh yah… saya juga pernah dengar kata teman-teman yang bekerja di hotel dan di Kapal Pesiar di Amerika dan di Australia,  mereka sering tahu Bali tapi tidak tahu Indonesia…. Demikian terkenalnya Bali di Luar Negeri, tapi kira-kira menurut Bli Boglar apa yang bisa kita petik dari keterkenalan nama Bali ini….?

Bli Boglar: “ Hmm… sebenarnya kita berhak untuk memanfaatkan ketenaran Bali ini untuk memajukan daerah kita, tapi caranya gimana yah….? Akh peduli amat dengan ketenaran Bali, yang sekarang mendesak difikirkan adalah, bagaimana tuh menciptakan lapangan pekerjaan, mengurangi pengangguran, meningkatkan sumber daya manusia, membangun semangat entrepreneurship, membangun masyarakat yang mandiri kata Bung Karno; Berdikari: Berdiri di kaki sendiri, tidak tergantung pada orang lain, agar kita tidak didikte oleh orang lain, kita bisa bebas menentukan masa depan kita…”

Bli De:… Wah mantap!! Bli Boglar, nanti kalo ada pemilihan wakil rakyat… jeg Bli Boglar dah yang saya calonkan… tapi jangan kayak para wakil rakyat saat ini, janji-janjinya doang kenceng ketika kampanye, setelah terpilih sibuk dengan kegiatan mencari BEP dana kampanye….

Bli Tut:… hahahahah, kalian bener, sudah saatnya kita ini sadar akan gerusan dari pendatang, semangat daya juang pendatang atau perantau umumnya lebih tinggi dari daya juang pribumi, saudara-saudara kita, makanya ada pepatah: Pendatang jual Bakso untuk beli Tanah di Bali, orang Bali jual tanah untuk bisa beli Bakso..”

Bli Boglar:… Nah itu dia.. kira-kira apa ya penyebabnya kenapa sampe mereka bisa sukses berjualan makanan di Bali, kalo dilihat bukan hanya bakso, ada mie ayam, ada sate, gule, kambing, ada jualan rawon, ada jualan pecel lele, atau pecel ayam, dll.  Padahal peluang ini kan semestinya bisa digarap oleh anak-anak muda Bali…?

Bli De: “ Bisa jadi karena gengsi untuk berjualan… gensi untuk mendorong grobak, kan lebih baik kerja di hotel, di kantor, di swalayan, pakaian rapi, necis, bersih pasti dapat gajih walaupun pas-pasan.

Bli Boglar:…Emang apa salah kerja di swalayan, kerja jadi pegawai hotel? Kan mereka dapat uang juga,

Bli De: “Dalam beberapa hal gak salah, tapi lihat yang kerja di hotel itu…?Posisi-posisi tinggi diambil dari mana?, pemilik hotelnya dari mana…? Menurut Bli Boglar, emang di Bali gak ada orang pinter? Gak ada orang yang cerdas, gak ada orang yang berduit…? Masyarakat kita kebanyakan hanya menjadi karyawan-karyawan kelas bawah. Semua meninggalkan kampungnya di Bali, pergi merantau…, di kampong siapa yang membangun…?

Bli Tut:…” Trus menurut Bli De bagaimana semestinya…?”

Bli De: “Kita orang Bali harus sadar bahwa, gerusan pendatang tidak bisa diabaikan, karena kecantikan Bali telah memikat orang dari seluruh belahan Dunia, keinginan mereka untuk memiliki tanah dan rumah di Bali juga sangat tinggi, kalopun mereka bisa memiliki property di Bali, paling tidak mereka harus mendatangkan keuntungan atau peningkatan masyarakat di Bali, misalnya orang Bule yang mau punya rumah trus dia bangun pabrik, bangun usaha yang seluruh karyawannya orang Bali, misalnya, gak papa mereka tinggal dan Beli tanah di Bali. Terus orang Bali jangan sembarangan jual tanah, warisan tanah itu juga adalah hak anak-anak kita, jangan dijualin, setiap ada masalah kecil, malah kewajiban kita selain menjaga, menambahkan jumlahnya, itu baru adil…!”

Bli Boglar.. Bli De coba jelaskan dong, maksud Bli De, kenapa kita harus menambah jumlah tanah baru adil…?

Bli De: Gini Bli…. Saat ini Bli dapat warisan tanah kan..?, kalo gak salah nih, Bli dapat warisan sawah satu hektar, kebun cengkeh satu hektar, kebun kopi satu hektar, total tanah itu yang orang tua Bli Boglar wariskan ke Bli adalah sebanyak tiga hektar, yang merupakan hasil jerih payah Bapak dan Ibu Bli, nah sekarang Bli sudah beli berapa hektar yang akan Bli wariskan kepada anak Bli yang murni hasil keringat Bli…?

Bli Tut:… Bli De… jumlah tanah di Bali kan semakin berkurang, nah kalo kita terus berfikir membeli tanah-membeli tanah terus, dari mana kita dapatkan kalo bukan dari semeton Bali, Berarti kalo kita pingin nambah tanah sama dengan kita mengurangi tanah semeton kita orang Bali dong, ini menurut saya tidak menyelesaikan masalah, masak kita berbahagia dibawah penderitaan saudara kita…?

Bli Boglar:… Hahahahah….Bli De…apakah maksud Bli, kita beli tanah di luar Bali, Beli tanah di Jawa, di Kalimantan, di Sumatra, di Lombok, di Sulawesi, di Irian Jaya, dst….

Bli De:…Heheheh nah tuh kan Bli Boglar cepat bisa nyambung gak salah emang.. Bli Boglar ini emang cocok jadi wakil rakyat..Gini Bli, bukan hanya di Indonesia, sekali-sekali kita beli tanah di Amerika, Di Eropah, di Australia, di Timur Tengah… biar gak orang kita aja yang jadi buruh di negeri mereka, sekali-sekali boleh dong kita mimpi bahwa mereka jadi buruh kita…?

Bli Tut:… Beh Bli De terlalu tinggi mimpinya, ntar kaya orang gila kebanyakan mimpi, kalo gak terealisasi jadi stresss… akh saya ma gak mau menambah masalah hidup saya yang sudah ruwet…

Bli Boglar:.. Akh Bli Tut, mimpi itu kan gak bayar Bli, tiang pernah ikut pelatihan tentang leadership dan entrepreneurship… katanya sih mimpi itu wajib, agar energy kita berlipat ganda, dan mimpi itu harus tinggi, kalo mimpinya terbang ke Amerika, lantas kenyataannya hanya bisa terbang ke Singapura, kan masih lebih baik dari pada tidak punya mimpi, yah pasrah dengan keadaan, di sini aja di Kapas Jawa gak pernah kemana-mana…?

Bli De… Jadi menurut Bli Boglar kalo kita mau bangun Bali, setiap orang Bali harus punya mimpi tentang Bali yang maju, Bali yang mandiri, aman, tentram, setiap orangnya sejahtera, saling asah, saling asuh, salunglung sabayantaka, paras paros, tidak ada buta huruf, tidak ada pengangguran, tidak ada daerah tertinggal, tidak ada tuna wisma, semua punya rumah yang bagus, semua punya pekerjaan yang bagus, semua memiliki pribadi dan kharakter yang bagus….

Bli Boglar:… Betul sekali ! Andrea Hirata penulis buku terlaris yang berjudul “lascar pelangi”: “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” – Arai”. Lebih jauh tentang mimpi, Gail Devers mengatakan: “Keep your dreams alive. Understand to achieve anything requires faith and belief in yourself, vision, hard work, determination, and dedication. Remember all things are possible for those who believe.”  Artinya:  Jagalah mimpi-mimpimu tetap hidup. Mengerti untuk mencapai sesuatu butuh kepercayaan dan keyakinan pada dirimu sndiri, visi, kerja keras, kebulatan tekad, dan pengabdian. Ingat segala mungkin bagi mereka yang percaya/yakin.

Be Tut:.. Plok-plok-plok (tepuk tangan)…mantap Bli Boglar, cocok sekali dah jadi wakil rakyat. Gak nyangka kalo Bli Boglar yang selama ini sering merengut ternyata punya banyak jurus simpanan, jadi merengutnya selama ini adalah bentuk dari ekpresi sedang merenung yah…. Hahahahahah, saya dukung jadi wakil rakyat.

Bli Boglar:.. Bli Tut, emang hanya wakil rakyat yang bisa melakukan perubahan buat kita?, jangan hanya menunggu uluran dari orang lain (baca: wakil rakyat), tapi berusahalah mandiri seperti kata Bung Karno, agar kita tidak tergantung oleh mereka, mau pergantian wakil rakyat berkali-kali dalam setahun juga tidak akan mempengaruhi stabilitas diri kita, stabilitas ekonomi kita…. Ayo.. kita bangun semangat kemandirian… kita buktikan bahwa kitapun bisa.

~ oleh made24 pada April 7, 2011.

2 Tanggapan to “Warung Kopi. (Edisi: Mimpi Membangun Bali)”

  1. Artikel yang sangat menarik dengan pembahasan yang kocak sesuai bahasa sehari2. selamat dech. Salam bali

    • Suksma Ari..

      Semoga kita semua bisa berkontribusi untuk kemajuan Bali…

      Salam damai dan sukses selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: