Ajara Etika dalam Yoga lanjutan

Om Swastyastu.

Setelah kita menciptakan dan menjaga keharmonisan dengan lingkungan dengan menjalankan; Ahimsa, Satya, Asteya, Brahmacaria dan Aparigraha. Kemudian kita juga telah menyucikan diri lahir dan batin, menjaga kesuciannya (Sauca), bersyukur atas karunia Tuhan dan bahagia dengan apa yang dimiliki (Santosa), Tahan terhadap segala macam cobaan baik dari dalam diri maupun dari luar diri (Tapa). Marilah kita lanjutkan untuk mendalami ajaran berikutnya:

4. Svadyaya: Belajar Sendiri untuk mendapatkan pencerahan.

Tidak bisa dipungkiri kehidupan ini penuh dengan misteri diantaranya: kelahiran itu adalah misteri, tidak ada yang tahu siapa orang tuanya, dimana akan lahirnya, apa bentuk tubuhnya. Kematian juga misteri: bagaimana prosesnya, kapan waktunya, dimana tempatnya…Alam ini juga penuh dengan misteri, Aturan-peraturan pemerintah untuk kelangsungan suatu bangsa juga misteri…. untuk mengungkap segala misteri ini kita perlu belajar.

Belajar mengenal sang diri, belajar dari kejadian sehari-hari. Mengamati perubahan yang muncul pada pikiran terhadap segala aktivitas kehidupan. Belajar dari buku-buku agama, Kitab-kitab suci, belajar dari orang-orang suci dan guru-guru suci.

Belajar adalah kewajiban sepanjang hayat, “long life learning”, tidak heran bila sesepuh di Bali menasehatkan: ” De ngaden awak bisa, depang anake ngadanin, geginane buka nyampat, awak sai tumbuh luhu, hilang luhu ebuk katah, yadin ririh, enu liu pelajahan” artinya: Jangan pernah merasa bisa, biarkan orang lain yang memberikan predikat, hidup ini seperti orang menyapu, sampah bersih disapu, debu datang beterbangan, walaupun telah dikatakan pandai masih banyak yang perlu dipelajari….

5. Iswarapranidana : Berpasrah diri sepenuhnya pada Tuhan/Hyang Widdhi Wasa.

Setelah melakukan aktivitas-aktivitas diatas, tidak menyakiti mahluk lain dengan perbuatan, perkataan dan pikiran (ahimsa), tidak berbohong/jujur (Satya), tidak menginginkan milik orang lain (asteya), tidak mengumbar nafsu sex (sex terkendali)/brahmacaria, hidup sederhana (aharalagawa), menjaga kesucian lahir batin (sauca), berbahagia dengan karunia yang ada (santosa), tahan uji terhadap segala macam cobaan lahir dan batin dari dalam maupun luar diri (tapa), belajar sungguh-sungguh sehingga mencapai pencerahan (svadiaya) selanjutnya pasrahkanlah segalanya pada Tuhan….

Yakinlah bahwa apapun karya Tuhan adalah sempurna, karena Beliau Maha sempurna, yakinlah bila kita selalu melakukan karma baik sudah pasti akan mendapatkan hasil yang baik, jangan kwatir dengan masa depan karena masa depan masih misteri, dan jangan menyesali masa lalu, karena masa lalu tidak akan kembali lagi, dia telah lewat. Hiduplah saat ini, nikmati senyum manis sang istri, tawa riang sang anak, nyanyian merdu burung-burung yang berlompatan di pepohonan, wangi semerbak bunga-bunga di taman…

Bila kita rajin melatihnya setiap saat, maka kesepuluh ajaran itu akan menjadi kebiasaan, bila kebiasaan ini kita pertahankan dengan sebaik-baiknya maka dia akan menjadi budaya, dan bila dia telah membudaya akan menjadi ciri identitas diri kita dia akan menjadi bagian dari diri kita, maka jalan kebahagiaan dan kedamaian telah semakin dekat….. (bersambung ke Asana..)

~ oleh made24 pada Agustus 9, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: