Nasionalisme di era modernisasi

Om Swastyastu

“Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita” (Bung Karno – Pahlawan Proklamator)

66 tahun yang lalu para pejuang dengan gigih memerdekakan negeri ini dari cengkraman penjajah Belanda. Setiap orang bahu membahu bersemangat bersatu bergerak bersama menghancurkan segala kelemahan dan ketakutan untuk mendobrak dan mengusir penjajah dari negeri nusantara.

Sebuah Negara baru terbentuk yang merupakan penyatuan dari berbagai tradisi, budaya, suku, agama yang terbentang dari Sabang sampai Mearuke. Hasil tetesan keringat semua rakyat yang menyatu dalam suatu gerakan pembebasan, menuntut hak kebebasan yang dibawa sejak lahir.

 Tanggal 17 Agustus 2011, Indonesia genap berusia 66 tahun, diusia yang cukup dewasa bagi sebuah negera. Dalam pidato menyambut HUT RI ke-66, Duber RI untuk UAE menyatakan bahwa, pertumbuhan ekonomi Indonesia 6.5% yang merupakan pertumbuhan tertinggi di Asia setelah China dan Jepang. Dengan GDP 720 billion USD, dimana sekitar 54 % diperoleh dari domestic consumtions dan komponen Export sekitar 27 % GDP.

Bila dulu para pejuang dengan mengorbankan harta, waktu, tenaga dan darah memerdekakan negeri ini yang kita warisi saat ini, lantas apakah yang bisa kita wariskan pada generasi kita sebagai wujud dari nasionalisme kita…? Masih adakah semangat nasionalisme di dada kita, walau kita berada jauh dari negeri tercinta?

Melihat perjalanan Bangsa ini, benarkah kita telah merdeka?… Iya kalo dilihat dari diusirnya para penjajah asing dan proklamasi kemerdekaan yang dibacakan 66 tahun silam. Namun sudahkah negeri ini terbebas dari penjajahan di usianya yang ke-66?

Memang negeri ini terbebas dari penjajah asing, namun penjajah dalam negeri ternyata tidak kalah hebatnya, para koruptor merajalela dengan jaringannya yang demikian kuat… panggung sandiwara dengan berbagai pelaku dengan tema yang sama terus dipentaskan… walau kadang tampak wagu dan lucu… tapi tidak juga pernah berhenti…

Hingga kini rakyat belum mendapatkan kemakmuran dan kesejahteraan secara menyeluruh, kemakmuran menjadi barang lux yang hanya dimiliki oleh segelintir orang. Pemerintah masih belum mampu membersihkan para koruptor, pun juga tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang cukup untuk rakyatnya.

Salah satu alternatip yang bisa ditempuh untuk mendapatkan pekerjaan adalah menjadi buruh migran di Negara-negara tetangga. Walau banyak dari mereka para Kartini yang dengan pendidikan minim nekad untuk hijrah ke negeri orang menjadi pekerja-pekerja non professional, kadang mendapat siksaan, mendapatkan perlakuan asusila, dipermainkan oleh para agen tenaga Kerja… namun semangat untuk meningkatkan diri dan meningkatkan kesejahteraan keluarga dari para Kartini ini luar biasa. Pantang mundur mereka terus maju…. Tidak bisa dipungkiri bahwa bekerja di luar negeri memberikan pendapatan yang lebih dibandingkan di dalam negeri .

Dari sekian banyaknya kisah pilu para TKI unskill labour ini, ada juga yang mampu mengharumkan nama bangsa dengan usaha dan kerja kerasnya yang tiada henti.

Elly Anita, wanita asal Jember yang menjadi TKI di berbagai Negara sejak 1997-2007 adalah korban human trafficking,  dengan semangat baja wanita ini bertekad untuk membantu teman-temannya sesame TKI untuk lepas dari korban human trafficking, keinginannya itu dia tuangkan dengan bergabung dengan Migrant Care. Walau hanya lulusan SD wanita ini mampu menguasai empat bahasa asing.  Kiprahnya yang luar biasa mampu menolong banyak TKI, banyak penghargaan didapatkannya salah satunya adalah anugrah Pahlawan Anti Trafficking dari Amerika Serikat. Dia bahkan diundang untuk berpidato di gedung PBB di Swiss.

Nuryati Solapari, wanita asal Banten yang bekerja menjadi TKI pengasuh anak di Saudi Arabia, bekerja dengan harapan dapat mengumpulkan biaya untuk bisa kuliah, dia geram melihat  banyaknya TKi yang punya masalah hukum memotivasi dia terus belajar menuntut ilmu hingga dia meraih gelar Sarjana dengan predikat Cummlaude, kemudian dia melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-2 hingga jenjang Doktoral. Selain menjadi Dosen Hukum di Untirta, Ketua Asosiasi PurnaTKI propensi Banten ini juga menjadi staff Migrant Institute yang aktip memberikan pengarahan pada para TKI. Dengan semangat baja, dengan keberaniannya, dan dengan tekadnya yang kuat Ibu Nuryati Solapari memberikan contoh pada kita semua cara untuk mengharumkan bangsa.

Bagaimana dengan TKI yang lainnya, mari kita tengok kiprah mereka untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya…

 Imam Nahrawi, mantan TKI dari Korea Selatan, kini menjadi pengusaha sukses di kampung halamannya, Way Jepara, Lampung Timur. Imam memiliki toko bahan bangunan, ruko, dan aset lain senilai total Rp 2,1 miliar. Namun, yang membuatnya tersohor adalah suksesnya mendirikan pasar TKI di Labuhan Ratu, Lampung Timur. Dia mendirikan pasar dengan 70 toko yang semua penjualnya adalah mantan TKI. “Pasar itu untuk memotivasi mereka agar tidak lagi menjadi TKI dan sukses berwirausaha,” katanya.

 Dalam sebuah wawancara pada acara KickAndy Imam berkenan berbagi rahasia sukesnya,

 “Istri saya sempat berpesan dan memberi saya 2 pilihan saat akan berangkat yaitu, pulang dan berhasil membuat iri tetangga karena sukses, atau pulang dengan malu karena disorakin tetangga karena tidak sukses,” tutur Imam.

Berbekal pesan dari sang istri tadi, Imam pun bekerja di perusahaan tekstil di Pusan, Korea Selatan. Tekad, usaha keras dan kejujuran yang membuat Imam bisa mengumpulkan banyak modal untuk menjadi pengusaha di tanah kelahirannya, setelah ia kembali dari korea tahun 2002. Kini Imam memiliki sejumlah usaha. Semua asset yang dibangun dari modal gaji yang dia kumpulkan selama bekerja di Korea itu, kini mencapai milyaran rupiah.

 Tentu masih ada banyak lagi kisah-kisah yang lain, jujur saja membaca kisah-kisah ini hati ini berdegup kagum, mereka mampu memberikan sesuatu buat bangsanya, selain untuk dirinya sendiri, Mereka-mereka ini telah menjadi manusia-manusia yang rela menderita untuk membela cita-cita, pekerja keras seperti yang diungkapkan oleh Pahlawan Proklamator pada awal  karya kecil ini.

Saudaraku mari kita berlomba untuk berbuat sesuatu untuk bangsa kita, di jalan kita masing-masing. Semoga akan semakin banyak lahir tokoh-tokoh yang memiliki semangat dan daya juang tinggi seperti  Elly Anita, Nuryati Solapari dan Imam Nahrawi… MERDEKA!!!!! Dirgahayu HUT RI-66

Made M./ 17-08-2011

~ oleh made24 pada Agustus 19, 2011.

2 Tanggapan to “Nasionalisme di era modernisasi”

  1. ya mari… itulah yang disebut dengan mengisi kemerdekaan.
    🙂 salam,

    mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

    • Salam damai dan sejahtera..

      mari kita wujudkan tanggung jawab kita sebagai insan indonesia.. mengisi kemerdekaan dengan kebaikan & kemajuan dibidang yang kita geluti hingga mencapai professional yang memberi manfaat bagi diri kita, keluarga kita dan lingkungan kita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: