Masih Adakah Merah Putih di Dadaku?

“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)

***

                Hidup di negeri seberang jauh dari bumi tercinta, rasa rindu membelenggu sepanjang waktu. Rasa rindu akan tanah air, terobati dengan mengintipnya melalui kotak maya yang menyajikan menu berita dari berbagai daerah di nusantara. Membaca tayangan berita di media massa online, selalu saja dihiasi oleh berita-berita kejahatan. Entah ini pertanda baik, dimana kejahatan selama ini tertutupi kini terkuak, atau malah sebaliknya, bahwa ini pertanda semakin hari semakin banyak kejahatan yang menimpa negeri ini. Bila itu pertanda baik, dimana banyak pelaku kejahatan telah terangkat kepermukaan, maka ada rasa percaya diri meningkat dalam hati ini, negeriku sedang bertumbuh.

Seperti layaknya tanaman yang masih berusia muda, perlu usaha ekstra untuk menumbuhkannya, perlu kerja keras untuk memelihara, menjaganya dari gangguan hama dan gulma, suhu terik matahari, dan kekurangan nutrisi. Begitu tanaman ini menginjak dewasa, ia telah mampu berdiri tegak, menyerap makanan dari bumi, mulai lepas ketergantungannya dari sang pemelihara (sang empunya).

Demikian pula negeri ini saat usianya masih muda, sangat sulit upaya untuk mempertahankan kemerdekaannya, banyak korban harta, waktu, tenaga, dan pemikiran ditelan, banyak korban nyawa berjatuhan disana-sini hanya untuk menjaga kemerdekaan ini. Rongrongan dari luar maupun dalam negeri tiada henti menggoyang keseimbangan negeriku. Satu persatu sang pengganggu ditebas, oleh semangat juang para pendahulu, seiring berjalannya sang waktu.

Penjajahan dari dalam yang dilakukan oleh para elit politik mengkebiri hak-hak rakyat tidak kalah hebatnya. Rakyat yang lemah tak berdaya, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi konon tidak mampu meretas segala kesengsaraan dan penderitaan rakyat. Krisis ekonomi dalam negeri, mendorong beberapa tenaga professional hijrah ke negeri orang untuk memperbaiki keadaan keluarga.

Alampun tidak diperlakukan secara arif, hutan ditebangi secara liar, bumi dilobangi dengan ganas, hanya untuk kepentingan pribadi segelintir orang, tak ayal membawa petaka bagi rakyat jelata. Para pelaku bersembunyi dibalik tembok kekuasaan, bermain dengan keindahan kata-kata berusaha lepas dari perangkap hukum. Alam yang diperlakukan tidak etis pun memberikan respon dengan terjadi berbagai musibah dinegeri ini, lagi-lagi yang jadi korban rakyat kecil.

Kepastian hukum dipertanyakan, para pencuri ayam dihukum berat, sementara para koruptor kelas tinggi enak-enak berlenggang tangan berlibur ke negeri tetangga. Aparat penegak hukumpun tidak bisa dijadikan sandaran manakala ada perlakuan yang tidak adil, kemanakah sang rakyat mesti mengadu saat mereka mendapatkan ketidak adilan? Entahlah..

Muncul pertanyaan lain dalam diriku, apa yang bisa aku lakukan, sebagai seorang pekerja professional yang sedang merantau ke negeri orang, untuk meringankan beban para saudara kita di negeri tercinta? Bila dijaman penjajahan para pejuang rela mengorbankan apa saja yang dimiliki, hingga nyawanya sekalipun, tidakkah diri ini memiliki sedikit keberanian (baca:merah) untuk mengorbankan sesuatu demi negeriku dengah hati yang bersih/suci (baca:putih)?

Aku kagum dengan para tokoh yang telah mengharumkan negeriku melalui kiprahnya di berbagai bidang kehidupan seperti: Dr. Sehat Sutardja (AS, Marvell Technology Group) penerima Indonesian Diaspora Lifetime Achievement Award for Global Pioneering and Innovation, Dr. Sri Mulyani, Direktur Pelaksana Bank Dunia, penerima Indonesian Diaspora Award for International Excellence, Dr. Eng. Khoirul Anwar (Jepang) penerima Indonesian Diaspora Award for Innovation, Professor Nelson Tansu, pria kelahiran Medan, peraih “The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award” Ken Soetanto priya kelahiran Surabaya, peraih gelar Professor dan empat PhD dari universitas yang berbeda di Jepang. Orang pertama non-Jepang yang menduduki jabatan Kepala Divisi di Universitas Waseda. Dr. Yanuar Nugroho: Orang Asia Pertama Penerima “Hallsworth Fellowship Award”. Yow-Pin Lim, MD, Ph.D pria kelahiran Cirebon ini adalah pendiri Chief Scientific Officer ProThera Biologics, sebuah perusahaan di Rhode Island, AS. I Gede Wenten, Alumni ITB terbaik 1982 merupakan sosok fenomenal di dunia industri membran, peraih penghargaan: “Suttle Award” dari Filtration Society di London, dan berbagai penghargaan lainnya,beberapa paten juga telah terdaftar di lembaga paten Indonesia, Jepang, Kanada, dan USA. Membicarakan orang-orang jenius seperti mereka memang tidak ada habisnya. Semangat juang mereka yang patut selalu diacungi jempol mampu menunjukkan jati diri di luar negeri.

Aku benar-benar angkat topi pada Imam Nahrawi; mantan TKI Korea Selatan, yang kini menjadi pengusaha sukses di kampung halamannya, Way Jepara, Lampung Timur. Imam memiliki toko bahan bangunan, ruko, dan aset lain senilai total Rp 2,1 miliar. Namun, yang membuatnya tersohor adalah kesuksesannya mendirikan pasar TKI di Labuhan Ratu, Lampung Timur. Dia mendirikan pasar dengan 70 toko yang semua penjualnya adalah mantan TKI. “Pasar itu untuk memotivasi mereka agar tidak lagi menjadi TKI dan sukses berwirausaha,” katanya.

Tokoh lainnya, Nuryati Solapari perempuan asal Banten yang bekerja menjadi TKI pengasuh anak di Saudi Arabia, yang bekerja dengan harapan dapat mengumpulkan biaya untuk kuliah. Nuryati geram melihat banyaknya TKI yang punya masalah hukum. Hal inilah yang memotivasinya untuk terus menuntut ilmu, hingga dia meraih gelar sarjana dengan predikat cumlaude. Nuryati melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-2 hingga jenjang doktoral. Selain menjadi dosen Hukum di Untirta, ketua Asosiasi Purna TKI Provinsi Banten, ia juga menjadi staf Migrant Institute, yang aktif memberikan pengarahan kepada para TKI. Dengan semangat baja, dengan keberaniannya, dan dengan tekadnya yang kuat, Nuryati Solapari memberikan contoh kepada kita semua cara untuk mengharumkan bangsa.

Aku yakin masih banyak tokoh-tokoh Indonesia yang kiprahnya mengharumkan nama bangsa, yang belum aku sebutkan. Kembali muncul pertanyaan dalam benakku; Tidakkah aku memiliki keberanian (baca:merah) melakukan sesuatu dengan niat suci (baca:putih) untuk bangsaku, dengan segala macam keterbatasan yang ada? Aku termenung sejenak, dengan keadaanku sebagai kuli di sebuah perusahaan asing apa yang bisa kulakukan?, mungkin dengan menulis bisa memberikan sumbangsih pada negeriku. Perlahan namun pasti aku coba menuangkan pemikiran dan pengalamanku dalam secarik kertas, kemudian menyalinnya pada kotak ajaib yang bernama komputer. Tak terasa satu tahun telah berlalu, di pertengahan July 2012, aku beranikan diri menerbitkan karya kecilku: Titik-Titik Air di Padang Pasir.

Aku menyebut karya kecilku ini sebagai mata air intelektualku yang pertama. Mata air yang terbentuk dari titik air yang jatuh dari langit kehidupan dan meresap ke dalam bumi yang dipijak. Titik-titik air yang sangat dirindukan oleh setiap insan yang tinggal di negeri padang pasir di tepian teluk Persia.

Di mata air ini, aku mengundang saudara-saudaraku yang sedang dahaga, yang merindukan energi untuk menggapai mimpi, meraih cita-cita, mengatasi ketakutan, keraguan untuk melangkah, kekhawatiran akan masa depan, kepedihan akan masa lalu. Atau mereka yang memiliki keterbatasan fisik, harta, pendidikan, relasi, atau peluang, namun memiliki semangat yang kuat untuk maju dan sukses. Perasaan-perasaan yang beberapa periode pernah membelenggu saya sedemikian kuat, membuat saya terpaku diam dan tak mampu melangkah, seperti gunung batu karang yang tak bergeser sedikit pun walau diterjang badai; kaku seperti mayat. Padahal guru kehidupan bertutur bahwa ciri manusia hidup adalah bergerak—tidak diam. Di lain sisi, keinginan untuk menikmati kehidupan material kian kuat mencengkeram benak saya. Hingga suatu ketika, secercah cahaya kesadaran timbul, menerangi jiwa, dan batin ini berbisik: untuk tetap hidup saya harus melangkah!

Melangkah! Ya.. hanya dengan melangkah kita bisa meraih kemerdekaan, kebebasan, kesuksesan dan kebahagiaan. Untuk mengakhiri untaian kata ini perkenankan saya mengutip ucapan Pahlawan Proklamator, Bung Karno:” “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”.                MERDEKA!!!!!!

http://sosbud.kompasiana.com/2012/08/16/masih-adakah-merah-putih-di-dadaku/

~ oleh made24 pada Agustus 17, 2012.

2 Tanggapan to “Masih Adakah Merah Putih di Dadaku?”

  1. om swastiastu…salam kenal
    tulisan yang bagus…dgn banyaknya realitas nusantara ini yang saling membenarkan suatu hal yang padahal itu belum tentu benar thdp lainnya.
    menjadikan negeri ini tenggelam jauh ke dasar jurang yg gelap dgn melupakan bagaimana negeri ini berdiri atas jasa pahlawannya tp ada segelintir orang yang menginginkan merah putih tsb selalu ingin di rubah.
    Rahayu…semoga bangsa ini selalu merah putih.

    kebangkitan-hindu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: