GALUNGAN & KUNINGAN METODA PRAKTIS MERAIH KEMENANGAN

www.balipromotioncenter.com

Perayaan Hari Galungan dan Kuningan ini bukan semata praktis spiritual belaka, ternyata ada sebuah Pendekatan atau metoda sistimatis yang mengantarkan kita meraih kemenangan (kesuksesan).

***

                Hembusan udara summer season menyesakkan dada, membuatku  dan penghuni Ruwais Housing ComplexAbu Dhabi lainnya enggan keluar rumah terkecuali bila ada hal yang mendesak. Aku memilih bermain bersama kedua putriku Diva dan Gita di dalam rumah, tingkah polahnya yang lucu selalu saja mengundang gelak tawa aku dan istriku. Disela-sela bermain, istriku mengingatkan bahwa minggu depan adalah Hari Raya Galungan, salah satu hari besar agama Hindu di Indonesia untuk merayakan kemenangan Kebaikan (Dharma) melawan Kebatilan (Adharma). Hari Raya ini jatuh pada Hari Rabu Kliwon Dungulan menurut Kalender Bali. Suasana hari Raya di kampung sendiri dan di rantau sungguh berbeda. Aku rindu kue-kue (jaja) dan makanan khas yang biasa dibuat di musim galungan, seperti; jaja matahari, jaja sirat, jaja uli, tape ketan dll. Demikian pula makanan, ada sate lilit, tum, entil, dendeng goreng, rambanan, nasi kuning, ketupat, dll. Ingatanku melayang ke masa kecilku di Pulau Dewata puluhan tahun silam, setiap Hari Raya Galungan Ibu selalu sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk upacara sejak 25 hari sebelum Hari Galungan. Saking tenggelamnya dalam melakukan persiapan, Ibu seringkali lupa makan dan minum.

Muncul berbagai pertanyaan dalam diriku, kenapa ada banyak rangkaian upacara yang dilalui sebelum mencapai puncak perayaan, Buddha Kliwon Dungulan?. Adakah peninggalan leluhurku ini memberikan sebuah pelajaran yang bisa aku gunakan untuk menjalani kehidupan di era modernisasi?. Pernah aku dengar penuturan seorang sepuh di kampungku, saat sekolah belum begitu merakyat, Para Suci, Para Guru Agung menyelipkan setiap inti pelajaran hidup dalam aktivitas spritual, sehingga ketika umatnya melakukan aktivitas sepiritual sekaligus mendapatkan pemahaman filosofisnya. Beliau mengajarkan kami untuk memasuki ranah praktis dan menemukan mutiara-mutiara hidup di dalam praktik kehidupan sehari-hari, learning by doing, learn from the experiences. Sistem pengajarannya terbalik, saat melakukan sesuatu kita dipancing untuk bertanya, sambil membimbing kita mengerjakan aktivitas itu para sepuh menjelaskan makna dan tujuannya. Berbeda dengan sistim pengarajan di sekolah saat ini, kita diajarkan teori baru praktis. Kelemahannya para pelajar bisa pandai bicara tapi lemah dalam praktis. Rasa penasaran mulai mengunjungi batinku.

Aku mengingat-ingat kembali rangkaian upacara Hari Galungan, kucoba merenunginya. Dalam perenunganku, tiba-tiba batin ini seolah berbisik: “Bila kita ingin menang (pertarungan di dalam diri), maka kita harus hidup terlebih dahulu, karena kemenangan hanya bisa diraih dan dinikmati oleh orang yang masih hidup. Untuk hidup kita perlu makan, pakaian dan tempat tinggal. Makanan kita dapatkan dari tetumbuhan (padi, gandum, sayur, bumbu dan buah-buahan), sandang (kapas untuk benang dan kain), kayu untuk membangun rumah. Tumbuhan juga memberikan kita oksigen, peneduh, penyimpan air. Tumbuhan menjadi makanan bagi hewan yang menjadi  sumber protein hewani, menjadi alat trasportasi, dan peliharaan bagi manusia. Bila tetumbuhan tidak ada, kita tidak bisa hidup, pendek kata banyak sekali jasa tetumbuhan pada kita, maka sudah seharusnya kita berterimakasih pada tetumbuhan. Rasa terimakasih ini diwujudkan dengan mendoakan mereka agar mereka mendapatkan peningkatan dan kesejahteraan. Pantas saja, mendoakan mereka merupakan awal rangkaian untuk merayakan Galungan. Berterimakasih Pada Tuhan yang telah menciptakan tetumbuhan, pada hari Tumpek Pengarah, 25 hari sebelum hari Galungan)

Selain tumbuhan apa yang memberikan kontribusi penting bagi kehidupan kita sebagai manusia? Lima unsur (tanah, udara, air, api dan ruang) yang dikenal pula dengan nama panca maha butha. Tanah tempat dimana kita lahir, hidup dan berkembang. Kedua Udara, zat yang sangat dibutuhkan untuk bernafas, manusia hidup karena masih bernafas. Unsur ketiga adalah Air, menurut ilmu biologi, salah satu ciri mahluk hidup adalah membutuhkan air. Air membentuk tubuh manusia lebih dari 70%, air sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita. Unsur keempat Panas/Cahaya, seperti halnya reaksi kimia yang bisa berlangsung pada suhu dan tekanan tertentu, demikian pula proses metabolisme di dalam tubuhpun membutuhkan panas (suhu tertentu), panas tubuh bisa didapatkan melalui makanan dan pernafasan, makanya ketika kita puasa (tidak makan dan minum) tangan terasa dingin. Tubuh manusia yang masih hidup hangat, sementara mayat dingin dan kaku. Bagaimana dengan ruang? Agar makanan, minuman, udara bisa masuk ke dalam tubuh kita, perlu rongga mulut, kerongkongan, perut, rongga dada, pembuluh darah, jantung, dll. Kalo tidak ada ruang, tidak ada kehidupan, tidak ada pertumbuhan. Mungkin ini pula alasan kenapa ruang juga disimboliskan sebagai pencerahan. Ruang bisa memberikan segala sesuatu untuk masuk dan bertumbuh (room for improvement). Untuk itu bila kita ingin mencapai kemenangan, maka kita wajib berterimakasih kepada tanah, udara, air, api dan ruang. Secara spritual diadakan upacara caru (Anggara Kasih Julungwangi), secara fisik kita wujudkan dengan menjaga dari prilaku yang tidak baik dan tidak mencemarinya.

Perjuangan menuju kemenangan akan mudah bila kita mampu mengkonsentrasikan energi dan pikiran. Pikiran dan energi bisa dipusatkan lebih baik pada kondisi lingkungan di luar diri dan di dalam diri yang bersih. Bayangkan bila lingkungan disekitar terdapat sampah berbau busuk bertebaran dimana-mana, apakah mungkin kita mengkonsentrasikan pikiran dengan baik? Bayangkan pula bila badan ini penuh dengan kotoran, kitapun sulit untuk mengkonsentrasikan energi dan pikiran dalam melakukan setiap aktivitas profesi yang kita geluti. Oleh karenanya, melakukan pembersihan lingkungan di luar diri kita (baca: Alam Semesta beserta isinya/Buana Agung) wajib dilakukan, secara spritual dengan upacara pada hari Kamis, Wage Sungsang yang dikenal dengan Sugian Jawa. Pembersihan diri (Buana Alit) dilakukan pada hari Jumat Kliwon Sungsang yang dikenal dengan Sugian Bali.

Untuk meraih suatu kemenangan, tantangan selalu akan ada. Walaupun lingkungan di dalam diri (tubuh fisik) dan di luar diri (alam sekitar) telah dibersihkan, godaan (threats) belumlah habis. Tantangan yang terberat itu datang dari dalam diri (sifat-sifat negatif). Seperti Keinginan untuk berkelahi atau berperang, keinginan ini kalau tidak terkendali akan mendorong pada menghalalkan segala perang untuk kemenangan diri sendiri, sepak sana, terjang sini, tidak peduli dengan kepentingan dan penderitaan mahluk lain. Kekuatan ini disimboliskan dengan Butha Galungan, Butha=Kekuatan, Galung=Perang (dalam bahasa Kawi) [1]. Untuk mengendalikannya kita memohon kepada Tuhan (Siwa) pada hari penyekeban, Redite Paing Dungulan. Kita boleh bersaing dalam setiap sisi kehidupan namun janganlah sampai mengorbankan orang lain demi meraih cita-cita kita. Hari ini kita menguatkan tekad (nyekeb) untuk menaklukkan semua sifat-sifat negatif dalam diri, disebut pula dengan Penyekeban

Tantangan berikutnya adalah keinginan untuk selalu menaklukkan orang lain. Keinginan ini bila tidak terkendali akan menggiring kita pada cara-cara yang tidak etis. Dalam bahasa Kawi, menaklukkan=Dungul, kecendrungan/sifat manusia ini disimboliskan dengan Butha Dungulan [2]. Salah satu contoh kecilnya, mau menang sendiri (egois). Membuat canang/aturan yang mewah dengan tujuan untuk dipuji sebagai paling bagus. Hari ini biasanya para ibu membuat kue-kue (jaja) kering persiapan perayaan. Oleh karenanya hari ini disebut pula dengan Penyajaan

Yang tak kalah hebatnya memalingkan diri kita dari jalur kebenaran adalah keinginan untuk berkuasa, bila sifat ini tidak dikendalikan dengan baik, ia akan menggiring kita pada jurang kehancuran, bukan kemenangan (baca: Kebahagiaan). Berkuasa dalam bahasa Kawi disebut (Amangkurat) [3], sifat ingin berkuasa ini disimboliskan dengan Butha Amangkurat. Selain itu sifat yang paling sulit untuk dikendalikan adalah sifat tamas atau malas, sifat ini harus dipotong bila kita ingin meraih kemenangan (sukses),hal ini disimboliskan dengan memotong Babi, karena babi adalah simbol binatang yang malas. Hari ini disebut dengan Penampahan (nampah=mematikan sifat-sifat negatif).

Ketika kita telah mampu membersihkan kekotoran secara fisik, mampu mengendalikan sifat-sifat negatif selanjutnya kita lebih memantapkan pikiran/niat (nyujatian kayun) dengan mengaturkan pejati di sore hari dan memasang Penjor. Penjor ini memiliki banyak makna. Melihat bahan-bahan yang dirangkai membentuk Penjor, saya meyakini sebagai simbol yang bisa memantapkan dan mengingatkan kita bahwa, untuk menang kita harus bisa bertahan hidup. Untuk bisa bertahan hidup kita membutuhkan pangan (hasil bumi),  sandang (kain yang dililit pada penjor), papan (bambu), pengetahuan spritual dan sekular yang bersumber dari Kitab Suci Veda. Menurut Bhagawan Dwija, Veda disimboliskan dengan; lamak simbol Reg Weda,bakang-bakang simbol Atarwa Weda, tamiang simbol Sama Weda, dan sampian simbol Yayur Weda. Di samping itu penjor juga simbol ucapan terima kasih ke hadapan Hyang Widhi karena sudah dianugerahi kecukupan sandang pangan yang disimbolkan dengan menggantungkan beraneka buah-buahan, umbi-umbian, jajan, dan kain putih kuning.Pada sandyakala segenap keluarga mabeakala, yaitu upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Galungan.

Buah manis semua perjuangan diatas, kita bisa memetik kemenangan, memenangkan kebenaran di dalam diri dan dalam kehidupan kita, pada hari Galungan. Kemenangan ini patut dirayakan dengan menghaturkan rasa terimakasih berupa persembahan dan  persembahyangan kepada Para Leluhur dan Tuhan dengan segala manifestasinya.

Dalam prosesi meraih kemenangan ini dan sebagai manusia biasa, tentu saja kita tidak bisa lepas dari kekurangan yang menghantar kita pada kesalahan, atau kekeliruan dalam berfikir, berkata maupun dalam berbuat. Oleh karena itu kita mesti memohon maaf secara lahir dan batin (mesila krama) kepada keluarga, sanak saudara, teman-teman, tetangga, rekan kerja, dan masyarakat sekitarnya. Sehingga kebahagiaan ini akan terasa manis. Hari ini disebut dengan Manis Galungan.

Meraih prestasi lebih mudah dari pada mempertahankan prestasi, karena seringkali sifat sombong manusia menghampiri manakala ia berhasil, untuk itu kemenangan atau keberhasilan ini harus dipertahankan dengan memohon anugrah dari Tuhan dalam manifestasi-Nya dari segala penjuru arah mata angin (Nawa Sangga) dengan melakukan tapa brata selama sembilan hari, mulai hari Manis Galungan Hingga penampahan Kuningan. Keberhasilan melakukan tapa, brata selama sembilan hari, dirayakan dengan membuat nasi kuning, pada hari Kuningan. menghaturkan rasa terimakasih kepada Leluhur, Tuhan dan segala manifestasinya dengan melakukan persembahyangan. Segala kebaikan yang telah dipupuk hendaknya tetap dipertahankan selama 35 hari sejak hari Galungan. Bila segala sesuatu dilakukan secara terus-menerus selama 35 hari maka dia akan menjadi habit atau kebiasaan. Dengan kata lain kebaikan/kebenaran telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Akhir dari 35 hari ini disebut dengan Pegatuwakan. Pegat artinya berpisah, dan uwak artinya kelalaian. Jadi pegat uwakan artinya jangan lalai melaksanakan dharma dalam kehidupan seterusnya setelah Galungan [4]. Seiring dengan berjalannya sang waktu, kebiasaan kemungkinan bisa luntur, oleh karenanya perlu diingatkan kembali (refresh), inilah mungkin alasan kenapa Galungan dan Kuningan kemudian dirayakan secara berulang, setiap enam bulan sekali.

Jadi, perayaan Hari Galungan dan Kuningan ini bukan semata praktis spiritual belaka, ternyata ada sebuah pendekatan atau metoda sistimatis yang mengantarkan kita meraih kemenangan (kesuksesan). Made Mariana, Kamis, 23 Agustus 2012, Ruwais-Abu Dhabi.

 


[1] Galungan – Rangkaian Upacara dan Makna Filosofinya (Bhagawan Dwija)

 

[2] Galungan – Rangkaian Upacara dan Makna Filosofinya (Bhagawan Dwija)

[3] Galungan – Rangkaian Upacara dan Makna Filosofinya (Bhagawan Dwija)

[4] Galungan – Rangkaian Upacara dan Makna Filosofinya (Bhagawan Dwija)

http://filsafat.kompasiana.com/2012/08/24/galungan-kuningan-metoda-praktis-meraih-kemenangan/

~ oleh made24 pada Agustus 24, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: