Hari itu adalah bulan purnama, langit sangat cerah, cahaya bulan menyapu sang rau menerangi alam samesta. Cahayanya yang lembut menyapa siapa saja yang menatap kepadanya. Binatang malampun ikut bersuka ria, kunang-kunang beterbangan saling berkejaran, menari membentuk lingkaran-lingkaran yang sedap di pandang mata. Jengkrikpun tidak mau ketinggalan berlomba melantungkan tembang-tembang yang membuat suasana malam itu begitu semarak. Lanjutkan membaca ‘Irihati … Tembok Penghalang Kesuksesan’
Mabuk… Tembok Penghalang Kesuksesan ke 5
•Oktober 30, 2009 • Tinggalkan sebuah KomentarMari kita lanjutkan kisah Pandita yang sedang memberikan penjelasan pada para muridnya tentang Enam Tembok Penghalang Kesuksesan.
Di lembah Toya Mantra tempat dimana pesraman sang Pandita berdiri megah yang dikelilingi oleh bukit-bukit hijau, bukit kapasjawa, bukit bibun, bukit timbul, tampak Sang Pandita duduk di depan murid-muridnya, mereka berbincang-bincang akrab seperti seorang ayah dengan anak-anaknya, sesekali mereka tampak bercanda ria bagai seorang sahabat karib.
Guru yang satu ini memang sangat berbeda, Beliau tidak pernah menempatkan dirinya diatas para murid-muridnya, Beliau total lebur dengan siapapun yang hadir bertamu. Kesederhanaan, keceriaan, dan kelembutannya Lanjutkan membaca ‘Mabuk… Tembok Penghalang Kesuksesan ke 5′
Bingung..,Tembok Penghalang Kesuksesan 4
•Oktober 30, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar“Guru, tadi pagi guru telah menjelaskan pada kami tembok yang ke:3 yaitu Lobha yang tak terkendali. Ternyata banyak sekali penyakit masyarakat yang bisa tumbuh subur dengan tidak terkendalinya lobha/serakah itu. Kolusi, nepotisme, korupsi, lintah darat, adalah beberapa model produknya yang menyengsarakan rakyat banyak. Serakah yang tak terkendali ini pada akhirnya akan menuju pada himsa karma dalam bentuk yang halus. Lanjutkan membaca ‘Bingung..,Tembok Penghalang Kesuksesan 4′
Enam Tembok Penghalang Kesuksesan Bag 3
•Oktober 19, 2009 • Tinggalkan sebuah KomentarOm Swastyastu
Tembok 3: Lobha/Serakah yang tak terkendali
Pagi itu begitu cerah, sinar mentari menyapu sang rau, angin sejuk pegunungan berhempus dengan lembut seakan menyapa siapapun yang datang bertamu, burung-burung berkicau riang beterbangan dari satu dahan ke dahan yang lain, tak mau kalah, kupu-kupupun bercengkrama mesra menari riang di atas bunga-bunga yang mekar berwarna-warni menghiasi taman di depan pesraman sang Pandita. Tampak Sang Pandita bersama murid-muridnya sedang asyik berdiskusi dibawah pohon rindang di pinggir kolam dengan airnya yang jernih dihiasi oleh bunga teratai beraneka warna membuat takjub siapapun yang menyaksikan karya agung Tuhan Maha Esa.
Seorang murid yang bertubuh jangkung berpakaian warna biru tiba-tiba berdiri diantara kerumunan kawan-kawannya. Dengan mencakupkan kedua tangannya di dada sang pemuda mengucapkan salam pangenjali “Om semoga semua mahluk berbahagia dan sejahtera, Guru terimakasih atas penjelasan guru tentang Tembok:1 Keinginan yang terkendali, Tembok:2 Marah yang tak terkendali, sungguh semua penjelasan guru telah membuka mata hamba yang bodoh ini. Ternyata tanpa hamba sadari selama ini hamba sering diperbudak oleh kedua tembok itu. Pabila Guru berkenan sudilah kiranya Guru menjelaskan tembok berikutnya..” Lanjutkan membaca ‘Enam Tembok Penghalang Kesuksesan Bag 3′
Enam Tembok Penghalang Kesuksesan part 2
•Oktober 16, 2009 • Tinggalkan sebuah KomentarTembok 2: Marah yang tak terkendali
Anakku sekalian, keinginan yang tak terkendali akan mengarah pada pemborosan sumber daya, artinya sumber daya terbatas yang dimiliki tidak diaplikasikan tepat guna. Pada akhirnya hajatan utama untuk meraih cita-cita terbentur karena kurangnya sumber daya, ibarat sebuah tembok yang sangat tebal terbuat dari besi baja, membendung laju kehidupan kita.
“Nafsu keinginan tak pernah terpuaskan dengan menikmati objek keinginan itu, karena ia akan tumbuh semakin besar, seperti api yang dituangi bahan bakar’ demikian dinyatakan dalam Manu II.94
“Na jaatu kaamah kaamaanaam upabhogena saamyati
Hawisaa krsnawartmewa bhuya ewabhiwardhate”
“Guru, terimakasih banyak dengan penjelasan guru yang sangat gamblang, kini kami mengerti kenapa keinginan yang tak terkendali itu bisa menjadi sebuah penghalang yang hebat, bagaimana dengan tembok penghalang berikutnya…?Krodha (Marah) Lanjutkan membaca ‘Enam Tembok Penghalang Kesuksesan part 2′
Enam Tembok Penghalang Kesuksesan
•Oktober 14, 2009 • & KomentarTembok 1: Keinginan yang tak terkendali
Seperti biasa pagi itu setelah melakukan meditasi bersama, Sang Pandita berkumpul di Bale Gede yang terbuat dari kayu berukir indah sekali, ornamen ukiran yang dihiasi dengan motif bunga-bunga yang sedang mekar, berpadu dengan motif dedaunan yang dikombinasikan dengan warna-warna alami. Disetiap pilar tampak ukiran tumbuhan rambat dimana beberapa burung bertengger mesra bersama kawan-kawannya, membuat mata sedap memandangnya.
Sang Wiku tampak asik berdiskusi bersama murid-muridnya, Kali ini mereka mendiskusikan enam tembok penghalang kesuksesan Lanjutkan membaca ‘Enam Tembok Penghalang Kesuksesan’
Fokus pada proses bukan pada hasil
•Oktober 5, 2009 • & KomentarMari kita lanjutkan kembali kisah sang Pandita Sakti. Seperti biasa selalu saja ada orang yang datang mengunjungi sang Pandita, entah apa yang mendorong mereka untuk rela menempuh perjalanan jauh, siang dan malam, menaiki gunung dan menuruni lembah yang tidak sedikit hanya untuk bisa berjumpa dengan sang Pandita. Lanjutkan membaca ‘Fokus pada proses bukan pada hasil’
Sarasamuccaya Sloka 67
•Oktober 5, 2009 • Tinggalkan sebuah KomentarKantakan kuupamagnin ca varjayanti sadaa naraah
Tathaa nrsamsakarmaanam varjayanti nardhanam.
Artinya:
Inilah keburukannya nrsangsa (mementingkan diri sendiri) tidak disukai dalam masyarakat; orang yang papa hina sekalipun tidak menyukainya; sebagai orang menghindari duri, sumur kering, ataupun api, demikianlah orang yang sesungguhnya meninggalkan orang yang nrsangsa itu. Lanjutkan membaca ‘Sarasamuccaya Sloka 67′
Kebenaran itu Sederhana tapi sulit dijalani
•September 25, 2009 • & KomentarMarilah kita tengok kembali kisah Pandita Sakti. Dikisahkan hari itu Sang Pandita kedatangan seorang tamu. Dari penampilannya tampak Beliau bukanlah orang sembarangan, cara berkaiannya sangat rapi, perpaduan warna pakaian atas dan bawahannya sangatlah serasi dengan jubah berwarna biru tampak begitu gagah dan menawan. Beliau adalah seorang pengusaha sukses pada jamannya, yang berusia sekitar 60 tahunan.

Pandita Sakti memberikan wejangan pada para murid
Seperti biasa sang Pandita menyambut tamunya dengan senyum yang ramah tidak lupa mempersilahkan minum Kopi Bali Lanjutkan membaca ‘Kebenaran itu Sederhana tapi sulit dijalani’
Keterikatan sumber kedukaan
•September 18, 2009 • & KomentarPada jaman dahulu di Nusantara, tersebutlah seorang pendekar ternama, yang sangat disegani oleh kawan dan lawan-lawannya. Dia sangat mahir memainkan berbagai jenis senjata, dia memiliki banyak ilmu-ilmu aneh yang sulit dimengerti oleh pendekar-pendekar lainnya, gerakannya sangat lincah dan gesit, sehingga tak satupun lawan yang bisa mengalahkannya. Setiap kali ada pertandingan di daerahnya, sudah bisa ditebak pemenangnya. Namun walaupun dia demikian hebat, tapi sang Pendekar sangat rendah hati dan hidup sangat sederhana, suka menolong dan membela yang lemah dan tidak segan-segan menurunkan tangan besinya pada para pelaku kejahatan. Masyarakat sangat gembira dengan kehadiran sang Pendekar, negeri jadi aman dan tentram.Dia selalu mengingatkan murid-muridnya untuk setiap saat membacakan doa berikut:
“Sarve Bhavantu Sukhinah; Sarve Santu Niraamayaah;
Sarve Bhadraani Pashyantu;
Maa Kashchida-Dukha-Bhaag-Bhaveta
Om Shantih Shantih Shantih
Artinya:
Semoga setiap orang berbahagia.
Semoga setiap orang terbebas dari penyakit.
Semoga Setiap orang mendapatkan keberuntungan.
Semoga tak seorangpun jatuh pada kejahatan. Lanjutkan membaca ‘Keterikatan sumber kedukaan’

10