Hindu India Vs Hindu Indonesia (Bali)

•Juni 25, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

PERBEDAAN HINDU INDIA DAN HINDU INDONESIA (BALI)

Made Mariana

Pesantian Hindu Ruwais-Abu Dhabi yang kedua Jumat 26 Juni 2009

Om Swastyastu,

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan banyak kemudahan bagi kehidupan manusia di berbagai bidang. Informasi dari berbagai Negara sangat mudah didapat dengan semakin majunya teknologi informasi. Kemudahan-kemudahan ini membantu kita untuk mendapatkan informasi adanya kebutuhan tenaga Kerja di Negara-negara tetangga dengan berbagai paket yang ditawarkan.

Keadaan ekonomi yang masih belum mapan di negeri kita mendorong banyak tenaga-tenaga professional hijrah dari Indonesia ke seluruh penjuru dunia. Dalam kesehariannya mereka berkomunikasi dengan berbagai macam budaya, agama, ras, suku bangsa dan bahasa.

Perbedaan yang ada menimbulkan banyak pertanyaan, hal ini wajar saja karena sifat manusia yang memang selalu ingin mengetahui lebih dalam tentang segala sesuatu hal. Salah satu pertanyaan yang sering kami terima dari temen-temen kerja terutama dari agama lain adalah, “Kenapa Hindu Indonesia (Bali) berbeda dengan  Hindu India..?”. Lanjutkan membaca ‘Hindu India Vs Hindu Indonesia (Bali)’

Hubungan Hindu dan Buddha

•Juni 25, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

HUBUNGAN HINDU DAN BUDDHA

Made Mariana

Pesantian Hindu Ruwais yang kedua, Jumat, 26 Juni 2009 – Abu Dhabi


Om Swastyastu,

Dalam Hindu, Buddha dipandang sebagai avatara ke-9. Setelah masa Krisna. Ia adalah perwujudan dari Visnu untuk menegakkan kembali kebenaran yang telah banyak dinodai oleh kebatilan. Beliau lahir dari seorang ayah yang beragama Hindu (Sanathana Dharma) dan meninggalpun sebagai seorang penganut Sanathana Dharma.

Beliau adalah seorang pangeran dan pertapa Hindu yang berhasil mencapai pencerahan (Buddha). Beliau mengejawantahkan inti sari pati Veda. Beliau sangat dekat dengan rakyat dan kaum miskin. Bahasa yang digunakan dalam penyebaran ajaran-ajaran Beliau, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh kaum fakir miskin. Beliau menolak ketika murid-murinya yang dari kaum Brahmana memohon ujin untuk menterjemahkan dalam bahasa Sanskertha. Lanjutkan membaca ‘Hubungan Hindu dan Buddha’

PESANTIAN 01 WARGA HINDU RUWAIS – ABU DHABI

•Juni 23, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

PESANTIAN WARGA HINDU RUWAIS – ABU DHABI

Jumat 19 Juni 2009

Made Mariana

Om Swastyastu,

LATAR BELAKANG:

Didorong oleh keinginan untuk maju, untuk meningkatkan diri baik dari sisi financial, ilmu, pengalaman maupun dari sisi yang lain, kita mengambil keputusan untuk merantau ke negeri orang, meninggalkan keluarga, sahabat, tanah air yang kita cintai.

Tinggal jauh dari kampung halaman di negeri sebrang yang dikenal dengan negeri kurma atau negeri gurun pasir, kita jauh dari kebiasaan-kebiasaan di negeri kita. Setiap hari raya kita bisa pergi sembahyang bersama, melakukan aktivitas rekreasi bersama keluarga dan kerabat serta teman-teman.

Disadari atau tidak perlahan tapi pasti kita mulai mengalami peningkatan diberbagai sisi, mulai dari ketrampilan berkomunikasi dengan berbagai bangsa, peningkatan percaya diri, peningkatan financial, pengalaman, pengetahuan dan keahlian. Ini secara umum disebut ilmu secular.

Idealnya kemajuan ilmu secular harus diimbangi dengan kemajuan ilmu spiritual. Agar tercipta kondisi mental yang stabil, berpengetahuan tinggi, berkeahlian mumpuni, dan memiliki pengalaman segudang dengan kebijaksanaan dalam laku dan kedamaian di hati. Lanjutkan membaca ‘PESANTIAN 01 WARGA HINDU RUWAIS – ABU DHABI’

Catur Marga Yoga – Raja Yoga 1

•Juni 17, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Om  Swastyastu

Yoga berasal dari akar kata Sanskerta “Yuj” yang artinya  to join (ikut serta, bersatu, mengikat), Secara spiritual Yoga merupakan suatu proses di mana identitas jiwa individual dan jiwa Hyang Agung disadari oleh seorang yogi, Yogi adalah orang yang menjalani yoga, orang yang telah mencapai persatuan dengan Hyang Agung.

Jiwa manusia dibawa kepada kesadaran akan hubungan yang dekat dengan sumber realitas (Hyang Widhi). Seperti setitik air yang bersatu dengan air di samudra.

Yoga adalah ketenangan hati, ketentraman, keahlian dalam bertingkahlaku,  Segala sesuatu yang terbaik dan tertinggi yang dapat dicapai dalam hidup ini adalah Yoga juga, Yoga mencakup seluruh aplikasi yang inclusive dan universal yang mengantar kepada pengembanngan/pembangunan seluruh badan, pikiran dan jiwa.

Yoga pada dasarnya adalah sebuah Cara/Jalan Hidup. Bukan sesuatu yang keluar dari kehidupan, bukan pula menjauhkan diri dari aktifitas, melainkan merupakan performa yang ifisient dengan semangat hidup yang benar. Yoga bukan pula melarikan diri dari rumah dan kebiasaan hidup manusia, melainkan merupakan suatu proses pembentukan sikap untuk hidup di rumah (keluarga) maupun hidup bermasyarakat dengan suatu pengertian baru, Yoga bukan memalingkan dari kehidupan, Dia merupakan spiritual dari hidup (; it is spiritualization of life).

Stability of personality, equilibrium of consciousness, harmony in the walks of life, is Yoga. Lanjutkan membaca ‘Catur Marga Yoga – Raja Yoga 1′

Sarasammuccaya Sloka 65

•Juni 17, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Om Swastyastu

Sarvam jihmama mrtyupadamarjavam brahmanah

padam etavam jnanavisayah kin pralapah karisyate

Artinya:

Sebab selama ketidak jujuran menjadi dasar perbuatan, terang itu adalah maut, yang tidak akan mengakibatkan terlepas dari ikatan duniawi; akan tetapi, jika arjawa (ketulusan hati) dasar perbuatan itu, tentu Brahmaloka tercapai, tempat menikmati kebebasan (moksa); demikianlah dalam keseluruhan jalan ikhtiar atau cara berfikir; tiada guna banyak biacara; itulah yang merupakan dasar kekuatan pikiran.

Dalam kehidupan ini, usahakanlah selalu untuk mendasari setiap gerak dengan kejujuran, dengan ketulusan hati, hanya itu yang akan menbantu kita mencapai kebebasan dari ikatan samsara (reinkarnasi) yang disebut dengan moksa, berhasil mencapai Brahma Loka. Lanjutkan membaca ‘Sarasammuccaya Sloka 65′

Mengoptimalisasikan potensi diri di era modernisasi 4

•Juni 15, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

3. EGOISME = AHANGKARA=Rasa

Kalo kita perhatikan siklus manusia belajar, ketika pertama kali dia lahir (setelah bagian tubuh wadag terbentuk), sang bayi menangis, karena panas, dingin, lapar, haus. Rasa pertamakali yang tumbuh. Dengan sentuhan rasa kasih sayang sang Ibu dan Sang Ayah, bayi mungil mulai mengerti tentang kehidupan yang berupa kenyamanan sehingga dia bisa tertawa riang, tertidur nyenyak dipelukan sang Ayah dan Ibu yang memberinya sejuta kasih sayang.

Setelah usianya bertambah, sang anak mulai bertanya, papa ini apa, mama itu apa, kok bigini…kok begitu…Logika atau pikirannya  berkembang.

Perkembangan berikutnya sang anak belajar tentang sopan santun, ini tidak pantas, itu yang pantas, ini yang dihindari, itu yang dilarang, ini yang dianjurkan, dan lain sebagainya, sang anak mulai belajar tentang spiritual yang memberikan ketenangan Jiwa.

Rasa juga memiliki peran yang sangat besar dalam kesuksesan hidup di dunia maya yang dikuasai oleh manusia. Seorang Daniel Goleman  menelorkan sebuah hasil penelitiannya tentang Emotional Quotient, yang konon memberikan kontribusi lebih besar dibandingkan dengan IQ ntuk mencapai kesuksesan dalam hidup ini. Lanjutkan membaca ‘Mengoptimalisasikan potensi diri di era modernisasi 4′

Ramayana Versi Indonesia- Dukungan Rakyat Pada Ramawijaya

•Juni 13, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dukungan Rakyat atas Pengangkatan Ramawijaya

Para pembesar negara dan rakyat yang mendengar pengumuman raja itu menyatakan persetujuannya. Mereka berpendapat bahwa rajanya telah mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya selama ini sehingga tercipta kemakmuran dan kesentosaan negeri. Mereka selanjutnya bertanya, siapakah gerangan yang hendak diangkat menjadi pengganti raja. Lanjutkan membaca ‘Ramayana Versi Indonesia- Dukungan Rakyat Pada Ramawijaya’

Mengoptimalisasikan potensi diri 3

•Juni 13, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

2. BUDDHI=KECERDASAN

Dengan kecerdasan kita bisa mudah mengambil keputusan, bisa mudah memahami setiap ilmu yang ada baik ilmu sekuler maupun ilmu spiritual. Kedua ilmu ini sangat kita butuhkan dalam kehidupan ini. Penguasaan yang benar pada kedua ilmu ini dengan bantuan kecerdasan akan mengantarkan kita pada pintu kesuksesan.

Budaya adalah merupakan produk dari Buddhi/kecerdasan ini.

Kecerdasan ini harus dijaga bersih dengan memberinya asupan berupa ilmu pengetahuan yang benar, jangan dikotori dengan ilmu pengetahuan yang merusak, sebaliknya dengan ilmu pengetahuan yang berguna bagi dirinya sendiri, bagi masyarakat disekitarnya maupun berguna bagi alam samesta. Lanjutkan membaca ‘Mengoptimalisasikan potensi diri 3′

Sarasammucaya Sloka 64

•Juni 13, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ahimsa satyavacanam sarvabhutesu sarjavam ksama, caivapramadacca yasyaite sa sukham bhavet.

Artinya:

Ini yang benar-benar harus dikuasai;

1. Ahimsa = Tidak menyakiti atau tidak membunuh

2. Satya = Berkata benar

3. Tidak berniat jahat terhadap mahluk apapun,

4. Tahan uji

5. Tidak alpa/lengah

Orang yang memiliki semuanya itu sesungguhnya telah mendapatkan kebahagiaan.

Kebahagiaan akan didapat bila kita telah memiliki sifat-sifat: ahimsa; tidak menyakiti mahluk lain baik dengan pikiran, perkataan maupun perbuatan. Setiap orang senang bergaul dengan orang yang tidak suka menyakiti mahluk lain. Karena tidak ada seorangpun yang suka disakiti. Setiap orang suka disayang. Bila kita bisa mengembangkan sifat ahimsa, maka setiap gerak langkah kita disertai dengan kasih…semua gerak menimbulkan kesejukan dihati, menyenangkan setiap orang yang kita temui akibatnya setiap orang  menebar senyum, sehingga dunia ini akan tampak indah dan menyenangkan Lanjutkan membaca ‘Sarasammucaya Sloka 64′

Mengoptimalisasikan potensi diri di era modernisasi 2

•Juni 9, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Om Swastyastu,

Mari kita bahas satu persatu lima komponen penting dari sang diri.

1. JIWATMAN/ROH

Tubuh ini, pikiran ini, egoisme/ahamkara dan buddhi bisa bekerja bila ada sang Jiwa atau Roh/Atman. Bila sang roh telah meninggalkan tubuh maka keempat komponen yang lain akan tidak berfungsi lagi. Jiwatman ini yang menghidupi manusia,

Pada awalnya Jiwatman ini adalah sangat suci, sangat berpengetahuan, sangat hebat luar biasa, karena Beliau adalah percikan kecil dari Brahman/Tuhan. Lanjutkan membaca ‘Mengoptimalisasikan potensi diri di era modernisasi 2′