header image
 

Mempertajam ”Manah” dan Kewaspadaan

Ida Pedanda Made Gunung:
Mempertajam ”Manah” dan Kewaspadaan

HINDU memiliki banyak hari raya. Hari raya keagamaan itu sesungguhnya memiliki makna cukup luas. Termasuk Tumpek Landep, tak hanya bermakna ritual. Dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kesadaran pikiran. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Hal itu ditegaskan Ida Pedanda Gede Made Gunung saat memberi dharma wacana di hadapan umat Hindu, Sabtu (15/11) kemarin. Dharma wacana serangkaian perayaan rerahinan Tumpek Landep itu mengambil tema ”Tumpek Landep dalam Kehidupan Sehari-hari”.

Dengan pikiran yang tajam, kata Ida Pedanda, diharapkan umat dapat menumpulkan gejolak indria dan menghindari perilaku menyimpang. Tumpek, kata Ida Pedanda, berarti pula tampek dan landep berarti tanying (tajam). Dalam perayaan ritual Tumpek Landep, umat diingatkan untuk selalu mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan.

”Ritual Tumpek Landep sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah sehingga mampu menekan perilaku buthakala,” katanya. Lanjutkan membaca ‘Mempertajam ”Manah” dan Kewaspadaan’

Panchatantra dan Artha Shastra

Panchatantra dan Artha Shastra


APAKAH PANCHATANTRA (LIMA BUKU)?

Buku-buku itu adalah kumpulan kisah-kisah yang diceritakan oleh seorang bijaksana yang bernama Vishnusharman kepada beberapa pangeran untuk mengajari mereka mengenai urusan-urusan dunia. Di balik setiap cerita ada satu moral, menunjukkan arah yang tepat dari tindakan yang harus diambil oleh seorang yang bijaksana. Ia juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan dan pengertian yang benar mengenai sifat-sifat manusia. Dalam kisah-kisah ini kejahatan diungkapkan melalu karakter dari binatang-binatang. Bagian yang paling penting dari kisah-kisah ini dimainkan oleh dua ekor serigala, Karataka dan Damanaka. Konon buku fabel Hindu yang terkenal ini ditulis pada tahun 200 AD. Salah satu dari buku terbaik dari buku-buku Panchatantra ini diterjemahkan oleh Arthur W. Ryder (University Of Chicago Press, 1925). Terjemahan bagus yang lain ditulis oleh Mr. D. Ghosal, diberi nama “Tiga puluh lima cerita dari Panchatantra” (Thirty Five Stories From the Panchatantra”, Kalkuta, 1925) Lanjutkan membaca ‘Panchatantra dan Artha Shastra’

PETANI

Pada jaman dahulu kala, Indonesia dikenal sebagai negara agraris, sebuah negara yang mayoritas mata pencaharian penduduknya bertani. Tanah di Indonesia memang sangat subur, tidak heran seorang musisi pribumi menuangkannya dalam sebuah lagu, “tongkat kayu dan batu jadi tananaman”. Demikian anugrah Tuhan pada Indonesia. Indonesia menghasilkan berbagai jenis produk pertanian dan perkebunan, seperti; padi, cenkeh, coklat, buah-buahan (mangga, durian, duku, rambutan, salak, anggur, kelapa, sayur-mayur, kembang beraneka warna dan jenis. Pendek kata negeri ini sangat kaya dengan berbagai jenis produk pertanian. Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris dan Jepang mereka datang ke Indonesia untuk mencari emas hijau (rempah-rempah). Akibat kekayaan ini juga yang tidak bisa dikelola dengan baik malah mendatangkan sengsara buat rakyatnya. Mereka para penjelajah samudra dari eropah kemudian bergantian menguasai dan menjajah negara ini. Tak ketinggalan Jepangpun tergiur dengan kekayaan yang dimiliki negeri ini, membuahkan sistem kerja romusa.

Perjuangan untuk meraih kemerdekaan terus berkobar di setiap sudut wilayah negeri ini, kerja keras dan perjuangan tanpa henti membuahkan hasil kemerdekaan. Negeri ini kemudian berbenah menata kembali sistem kehidupan di semua bidang termasuk pertanian.

Perlahan namun pasti, pertanian meningkat, namun sayang pembangunan y Lanjutkan membaca ‘PETANI’

Takdir Ada di tangan sendiri

Pada zaman kuno, ada seorang jendral yang memimpin pasukannya melawan musuh yang sepuluh kali lebih banyak dari mereka. Dalam perjalanan ia singgah di depan sebuah altar untuk bersembahyang meminta petunjuk.

Tiba-tiba Jendral ini berdiri di depan pasukannya, sambil memegang sebuah koin, di berkata lantang: “Wahai tentaraku semua…. dengarkanlah, sekarang saya mengadakan toss, Jika kepala yang muncul, kita menang, Jika ekor yang datang, kita kalah.” Klink…….. demikian suara koin yang dilempar ke atas, semua hadirin bengong dan mendekat memperhatikan gambar yang muncul pada koin yang telah dilempar.

Serentak mereka berteriak: “Hore….. Kepala!, Kita akan menang………. Serbu…!!!!, Hancurkan musuh sialan!!!, Kemenangan telah pasti”.

Ketika perang berkobar, musuh yang tak terhingga banyaknya betul-betul kalah.

Salah seorang tentara berucap:” Sudah kehendak langit, tak ada yang bisa merobah nasib”

Jendral tersenyum berjalan mendekati tentaranya kemudian berkata: ” Begitukah….?”

Sembari mengeluarkan koin yang tadi dipakai toss dari dalam sakunya, dan ternyata kedua sisi dari koin itu bergambar kepala.

Pemirsa yang budiman, Langit adalah adil dan tidak ada orang yang dikecualikan. Yang bisa menolong dirimu adalah dirimu sendiri.

Dharma Sutra

MOHON JELASKAN PADAKU, SIAPA PEMBUAT HUKUM PERTAMA DARI AGAMA HINDU (THE LAW-GIVERS OF HINDUISM?

Mereka adalah Maharesi Manu, Yatnavalkya, Parasara dan Gauthama.

APA NAMA KITAB HUKUM MEREKA?

Nama buku-buku hukum mereka adalah Dharma Sutra

APA ISI DARI KITAB-KITAB DHARMA SUTRA ITU?

Kitab-kitab Dharma Sutra merupakan bagian dari kitab-kitab Vedanga. Kitab-kitab itu memberikan penjelasan yang sangat rinci mengenai aturan tingkah laku dan kewajiban manusia pada tahap hidup yang berbeda serta hak-hak dan kewajiban-kewajiban para raja. Kitab-kitab itu juga menjelaskan masalah-masalah keagamaan seperti upacara penyucian (prayascita) dan penguburan. Kitab-kitab ini juga menjelaskan hak-hak dan kewajiban-kewajiban wanita dan mengenai masalah-masalah pengadilan. Juga dijelaskan mengenai penyesalan atas dosa-dosa. Dharma Sutra yang paling penting adalah Manusmriti atau Kode (Hukum) Manu. Kitab ini mempunyai 2.684 sloka yang diatur dalam 12 bab. Lanjutkan membaca ‘Dharma Sutra’

Belajar Beternak Sapi Bali

Semasa kecil setiap musim tanam padi, kakek sering mengajak aku membajaksawah. Bajak yang ditarik oleh dua ekor sapi, sambil bercerita kakek mengajariku membajak sawah. Aku heran kenapa sapi-sapi itu begitu nurut sama kakek. Kakek meneriakkan sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti artinya, tapi anehnya setiap kali kakek bersuara jussss…. sapi-sapi itu berjalan pelan menarik bajak. Mendekati belokan kake biasanya bilang kert..ket ket… sapi-sapi itu akan mengurangi kecepatan seperti menekan rem saat naik kendaraan rasanya.

Sapi-sapi itu juga dengan tenang terus mengikuti suara-suara yang dikeluarkan kakek. Aku sangat kagum dengan sapi-sapi ini, selain tenaganya cukup besar, kalo sudah besar dijual harganya mahal. Belakangan setelah aku sekolah baru aku tahu, sapi itu ternyata ada bermacam-macam. Ada sapi unggul ada sapi bukan unggulan. Sapi yang sering kami jumpai di kampung kami disebut sapi Bali. Salah satu nutfah sapi unggulan yang asli Indonesia. Lanjutkan membaca ‘Belajar Beternak Sapi Bali’

Sarasamuccaya Sloka 41

Maka yang harus anda perhatikan, jika ada hal yang ditimbulkan oleh perbuatan, perkataan dan pikiran, yang tidak menyenangkan dirimu sendiri, malahan menimbulkan duka yang menyebabkan sakit hati.

Perbuatan itu jangan hendaknya anda lakukan kepada orang lain. Jangan tidak mengukur baju di badan sendiri, prilaku anda yang demikian, itulah dharma namanya. Penyelewengan ajaran dharma jangan hendaknya dilakukan.

Rig Weda

APA SEBENARNYA ISI RIG WEDA?

Rig Weda adalah kitab Sruti yang paling utama. Ia terdiri dari 1,028 nyanyian pujaan (hymne) dengan jumlah total 10.562 baris yang dijelaskan dalam 10 buku. Satu hymne memiliki tiga bagian dasar. Bagian pertama adalah permohonan (exhortation), bagian kedua adalah pujian terhadap Dewa tertentu dalam bentuk doa, dan bagian ketiga adalah permohonan khusus (special request). Agama yang dijelaskan dalam Rig Weda dapat disebut Brahmanisme atau Wedisme. Dalam Rig Weda kita melihat bangsa Arya baru saja menetap di lembah-lembah sungai Indus dan memuja semua kekuatan alam seperti udara (Bayu), air (Baruna), matahari (Surya), bulan (Soma) dan api (Agni). Rig Weda tampaknya bukan kitab suci yang disusun selama periode waktu tertentu tapi satu kitab suci yang disusun dalam tahapan selama beberapa abad.
Lanjutkan membaca ‘Rig Weda’

Zen Dalam Cangkir Teh

Seorang guru besar sebuah perguruan tinggi mengunjungi Nan-In, Guru Zen di Jepang.

Nan-In menuangkan teh ke dalam cangkir, dan meskipun cangkir telah penuh dia menuangkan terus.

Guru Besar berkata:”Guru, teh telah melimpah keluar cangkir. Janganlah menuang lagi”

Nan-In berkata: “Engkau percis cangkir ini, penuh dengan pandangan dan cara berfikirmu sendiri. Jika tak kau kosongkan cangkirmu terlebih dahulu, bagaimana saya mesti menunjukkan Zen padamu?

Mereka yang dipenuhi oleh pandangan-pandangannya sendiri akan tuli pada kata-kata bijak dari orang lain. Yang sering terjadi dalam diskusi antara dua orang adalah yang satu akan mendesakkan pandangannya pada yang lain. Akibatnya, ia tidak belajar apapun kecuali pandangan-pandangannya sendiri.

Salya Tantra Ilmu Pengobatan Bedah Menurut Ayurveda

Salya Tantra  Ilmu Pengobatan Bedah Menurut Ayurveda
Oleh : Ngurah Nala
Universitas Hindu Indonesia

Di dalam kitab Sushruta Samhita dikatakan bahwa salya atau pembedahan merupakan terapi atau chikitsa yang paling baik, cepat dan berhasil untuk menanggulangi penyakit tertentu yang memerlukan pengangkatan atau menghilangkan bagian tubuh yang menyebabkan terjadinya penyakit. Menurut istilah Ayurveda, pengobatan dengan cara pembedahan dilakukan terhadap penyakit yang diakibatkan oleh penumpukan unsur tri dosha, dhatu dan mala di dalam tubuh. Dengan cara dibedah akan memberikan kesempatan kepada tubuh untuk mencapai keseimbangan dan keharmonisannya kembali. Salya atau pembedahan tidaklah hanya menyangkut pembedahan atau operasi saja, tetapi termasuk juga bagairnana menegakkan diagnosis, persiapan mengenal metode yang dipergunakan, ukuran, operasi, alat bedah, metode penanganan pasca bedah, dan mengembalikan kesehatan agar kesehatan kembali normal kembali. Cara yang biasa dipergunakan dalam pembedahan menurut Ayurveda adalah: Lanjutkan membaca ‘Salya Tantra Ilmu Pengobatan Bedah Menurut Ayurveda’